makam-maulana-rumi

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish pengembara, sang guru Maulana. Konon ia dibaringkan di kota antik itu. Aku menemukan jejaknya di sebuah masjid mungil yang sepi dan menyimpan misteri.

Di dalam masjid itu aku berzikir menyebut Nama, mengingat, merenungkan Tuhan dan berdoa.

Sambil memandangi pusara itu aku teringat kata-katanya yang indah sekaligus menghentakkan. Kata-kata itu disampaikannya suatu hari kepada murid kesayangannya itu:

لم يكن الموت هو الذى يقلقنى . لاننى لم اكن اعتبره نهاية . بل ما كان يقلقنى هو ان أموت من دون ان أخلّف تراثا.
أريد ان انقل المعارف التى توصلت اليها الى شخص آخر . سوآء كان أستاذا ام تلميذا.

“Bukanlah kematian yang menggelisahkan jiwaku. Bagiku, ia bukanlah persinggahan terakhir. Aku gelisah manakala mati, aku tidak meninggalkan warisan ilmu pengetahuan (Ketuhanan). Aku ingin mengalihkan pengetahuan yang telah aku peroleh kepada orang lain; guru maupun muridku”. (Syams al-Tabrizi).

Ramadan, 17.05.18