Pulanglah Bulbul

Seorang teman memintaku mereproduksi puisi untuk Gus Dur yang aku bacakan pada Haul ke V beliau di Ciganjur, 27 Desember 2014.

0
1151

فِى يَومِ وَفَاةِ غُوسْ دُورْ قُلْتُ لَهُمْ :
كَيْفَ لَا يَطِيرُ البُلْبُلْ وَيُمَزِّقُ اَلْفَ حِجَابٍ
حينَمَا نَادَاهُ الْحَبِيْبُ : إِرْجِعِى

Pada hari Gus Dur wafat, aku katakan kepada mereka :
“Mana mungkin Bulbul tak terbang pulang,
Merobek seribu tirai penghalang
Ketika diseru sang Kekasih: “Irji’i”.
Pulanglah

يَا مَنْ أَنْتَ فِى سَاعَةِ الْاَلَمِ رَاحَةٌ فِى نَفْسِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى مَرَارَةِ الْفَقْرِ كَنْزٌ لِرُوحِى
يَا مَنْ أَنْتَ فِى ظُلْمَةِ الْجَهْلِ نُورٌ فِى عَقْلِى

Duhai dikau, yang ketika aku dirundung duka-nestapa
Adalah Pelipur jiwaku

Duhai, dikau, yang ketika aku dihimpit pahitnya kepapaan
Adalah perbendaharaan ruhku

Duhai dikau, yang ketika aku ditelikung kegelapan
Adalah Cahaya akalku
مَا مَضَى فَاتَ وَالْمُؤَمَّلُ غَيْبٌ
وَلَكَ السَّاعَةُ الَّتِى أَنْتَ فِيهَا
وَلَنْ نَسْمَع الْبُلْبُل تُغَرِّدُ حُلْواً
يَحْكِىى سِيرَتَهُ وَغَرَابَتَهُ

Kemarin telah lewat
Dan harapan adalah kegaiban
Engkau kini sudah di sana
Dan aku tak kan lagi mendengar
Kicau merdu Bulbul
Bercerita pengembaraan dan keasingannya

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ
لَا يَأْتِى الزَّمَانُ بِمِثْلِهِ
إِنَّ الزَّمَانَ بِمِثْلِهِ لَبَخِيلُ
Alangkah jauhnya, O, alangkah jauhnya
Hari ini tak lagi seperti kemarin
Betapa pelitnya zaman
Memberi hari ini seperti hari kemarin

مَضَى الزَّمَانُ فَكُلُّ فَانٍ ذَاهِبٌ
إِلَّا جَمِيلَ الذِّكْرِ فَهُو الْبَاقِى

Zaman telah pergi
segala yang tak abadi hilang lenyap
Hanya sebutan yang indahlah
yang terus mengalir abadi

طُوبَى لِلْمُخْلِصِيْنَ الَّذِيْنَ إِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا وَإذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا
أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَآء
وانت يا حبيبى غوس دور منهم

Aduhai, betapa damai jiwa-jiwa yang putih.
Ketika hadir tak dikenal,
Ketika pergi dicari-cari
Merekalah kandil-kandil yang bersinar cemerlang
Karena kehadiran “mereka”
Semua fitnah hitam
Menjadi tampak terang benderang

Dan engkau, O. Kekasihku, Gus Dur,
Adalah “mereka”

يَا حَبِيبَ الرُّوح
قُلُوبُ وِدَادِكُمْ تَشْتَاُق
وَاِلَى لَذِيذِ لِقَآءِكُمْ تَرْتَاحُ
يُبَلَّغُونَ السَّلَامَ عَلَيكُمُ
وَيَرْجُونَ رَحْمَةَ رَبِّكُمُ

Duhai kekasih ruhku
Para pencintamu merinduimu
Kelezatan berjumpamu
Menitipkan rasa damai
Mereka menyampaikan salam untukmu
Dan mengharap rengkuhan Kasih Tuhan bagimu

Gus Dur menjawab :

يَا مَنْ تَبْحَثُ عَنْ مَرْقَدِنَا
قَبْرُنَا هَذَا فِى صُدُورِ العَارِفِينَ
وَقُلُوبِ الْمَجْرُوحِين
Duhai kalian yang mencari tempat tidurku
O, lihatlah, aku di dalam palung jiwa para bijakbestari
Dan mereka yang hatinya terluka

Catatan : Bulbul adalah burung pecinta. Ialah suara alam. Kicuannya menginspirasi banyak penulis dan penyair dunia. Ia mampu menyanyikan 300 lagu cinta dengan nada yang berbeda-beda. Ia juga burung yang cerdas, jenius, memiliki kemampuan berelasi dengan siapa saja secara baik dan luwes, setia dan dicintai.

يضرب به المثل في طلاقة اللسان وحُسنِ الصوت، عند تربيته في المنزل يضيف الإنشراح والبهجة والسرور ويتصف بالفطنة والذكاء وحسن المعاشرة وسهولة التربية، ويتصف بالوفاء ويألف صاحبه بدرجة كبيرة

How you feel for this post?
Share your vote!
1
0
0
0
0
0
1
0
0