Puisi-Puisi Kerinduan Ibnu Arabi

4
103887

“Tarjuman al Asywaq” Ibnu Arabi*

Puisi-Puisi Kerinduan

محى الدين ابو بكر محمد بن على بن عربى الحاتمى الطائى المعروف بالشيخ الاكبر والكبريت الاحمر. وهو عربى من نسل حاتم الطائى . ولد بمرسية بلد أبى العباس المرسى سنة 560ﻫ : وقرأ القرآن والحديث فى إشبيلية وأقام فيها نحو ثلاثين عاما ثم رحل الى المشرق وأخذ الحديث عن ابن عساكر وابن الجوزى وساح فى بغداد وموصل وبلاد الروم. واتسعت معرفه المتعددة . وقد توفى فى دمش سنة 638ﻫ. وقد أعطى بلاغة فى القول وعمقا فى التفكير وسعة فى الخيال. له النثر الكثير والشعر الكثير لا يعبأ بمال ولا جاه وكان كثير الشطح والتأويل. و تآليفه تبلغ نحو مائة و خمسين كتابا في ضروب مختلفة من العلوم و المعارف، و كلها عظيمة القدر و الاثر، و المنتفعون به في حياته، و بكتاباته بعد وفاته لا يحصون كثرة. و من أجل مؤلفاته: «فصوص الحكم» و «الفتوحات المكية»

Muhyiddin Ibn Arabi. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini?. Dialah sufi paling kontroversial; seperti Imam al Ghazali, dikagumi sekaligus dicacimaki sepanjang masa. Para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik.[1] Doktrin-doktrin sufismenya dikecam habis-habisan, seluruhnya sebagai bersifat panteistik dan menuhankan Muhammad. Karena itu mereka selalu berupaya untuk membunuh karakternya, bahkan juga dalam arti melenyapkan fisiknya. Para pengusung dan penerus doktrin-doktrinnya juga mengalami hal serupa; dicacimaki, dihujat dan dihabisi. Sampai hari ini upaya-upaya kelompok anti Ibnu Arabi untuk melarang kaum muslimin membaca karya-karyanya dengan klaim kebenaran agama masih terus berlangsung. Buku-bukunya disarankan dibakar, atau paling ringan dilarang dibaca.

Muhyiddin, yang secara literal berarti orang yang menghidupkan agama, lahir di Mursia, Andalusia, Spanyol, tahun 1165 dari keluarga terkemuka. Ayahnya bernama Ali bin Ahmad bin Abd Allah. Dalam 30 tahun sejak kelahirannya dia tinggal di negerinya dan mengaji keilmuan Islam tradisional secara bandongan pada sejumlah ulama terkemuka pada masanya. Kepada mereka Ibnu Arabi belajar al Qur’an dan tafsrinya, hadits, nahwu-Sharaf dan fiqh. Salah satu materi keislaman yang sejak awal menarik hatinya adalah tasawuf. Materi ini pernah didiskusikan bersama filosof muslim terkemuka itu. Pertemuan dengan Ibnu Rusyd digagas ayahnya sendiri. Ibnu Arabi menceritakan pertemuan ini : “Aku memilih waktu yang tepat untuk bertemu dengan Abu al Walid Ibnu Rusyd. Dia telah mendengar pikiran-pikiranku ketika aku di pengasingan. Dalam pembicaraan yang menarik dia mengajukan pertanyaan:”Apakah jalan keluar yang kamu temukan akibat dari iluminasi dan ilham Ilahi itu?. Bukankah itu sangat spekulatif dan subyektif?. Aku jawab: “Ya dan tidak”. Mendengar jawaban ini aku melihat wajah Abu al Walid menjadi pucat”.

Masih dalam usia muda, Muhyiddin menikah dengan Maryam, teman perempuannya yang juga setia pada jalan tasawuf. Selama 40 tahun lebih setelahnya dia hidup sebagai pengembara. Dia melakukan perjalanan sebagai pencari gagasan-gagasan spiritual ke sejumlah wilayah di Spanyol, Afrika Utara dan ke berbagai negari di Timur Tengah. Beberapa negeri yang pernah disinggahinya antara lain Mesir, Baghdad, Makkah dan lain-lain. Masa-masa terakhir hidupnya dilalui di Damaskus, Suriah sambil terus menuliskan permenungan intuitifnya yang diperoleh selama pengembaraannya.

Ibnu Arabi wafat tahun 1240 M. Kuburannya berada sebuah masjid yang dikenal dengan namanya, terletak di puncak pegunungan Qasiyun. Damaskus, Siria. Para peziarah dari berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini untuk mendapatkan berkah tokoh legendaris ini. Mereka berdoa dan mendoakannya. Itu berlangsung sepanjang tahun sampai hari ini.

Ibnu Arabi dikenal sebagai penulis paling produktif pada zamannya. Karyanya mencapai 200 buah. Sebagian menyebut jumlah lebih dari itu. Muhammad Qajjah, direktur kebudayaan Suriah mengatakan : “Huwa Aghzar Muallif fi Tarikh al Fikr al Islami bal la nubaaligh idza Qulna fi al al Tarikh al Basyari”(dialah penulis paling subur dalam sejarah pemikiran Islam bahkan tidak berlebihan jika saya katakan dalam sejarah pemikiran manusia). Bukunya yang sangat terkenal adalah “Al Futuhat al Makiyyah”, “Fushush al Hikam” dan “Tarjuman al Asywaq” berikut Syarh (ulasan) nya : “Al Dzakhair wa al A’laq”. Dua bukunya yang pertama merupakan karya masterpiecenya yang sangat terkenal di dunia sampai hari ini. Sementara dua buku yang disebut akhir adalah buku yang ingin kita baca malam yang indah ini.

Karya-karya Ibnu Arabi baik dalam bentuk prosa, puisi maupun “tausyihat”, kebanyakan ditulis dalam bahasa Persia. Sebagian lain dalam bahasa Arab. Kebanyakan karya-karyanya masih dalam bentuk manuskript. Pada masa sesudahnya buku-buku tersebut diteliti dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, oleh para sarjana muslim maupun non muslim. Karya-karya dan pikiran-pikiran tersebut diperkenalkan, disebarkan dan diberi ulasan panjang lebar oleh para muridnya yang terkenal sambil melakukan pembelaan terhadap gurunya. Beberapa di antaranya yang bisa disebut adalah ; Shadr al Din al Qunawi (w. 887 H/1274 M) dalam ”Miftah al Ghaib”, Abd al Karim al Jilli (767-805 H), Jalal al Din al Suyuthi, dalam “Tanbih al Ghabiy fi Tabri-ah Ibn Arabi”, dan Abd al Wahhab al Sya’rani (w. 1565), dalam “Al Yawaqit wa al Jawahir fi Bayan ‘Aqaid al Akabir” dan “Al Kibrit al Ahmar fi Bayan Ulum al Syeikh al Akbar”. Mereka adalah nama-nama besar dalam dunia mistisisme Islam yang dikenal luas. Tulisan-tulisan Ibnu Arabi didiskusikan dengan apresiatif dan dipuji. Tetapi pada waktu yang sama dia disumpahserapah dengan penuh kemarahan oleh para pembencinya yang pada umumnya adalah para ahli fiqh dan ahli hadits. Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa karya-karya dan gagasan-gagasan spiritual Ibnu Arabi menjadi sumber inspirasi yang sangat kaya raya dan paling dinamis bagi banyak sufi dan para intelektual terkemuka sesudahnya bahkan sampai hari ini. Pikiran-pikiran al Syeikh al Akbar ini dinilai bagaikan lautan yang tak pernah kering. Suhrawardi, sufi terbunuh, menggambarkannya sebagai “sebuah lautan kebenaran-kebenaran Ilahi”.

Akan tetapi harus segera dikatakan bahwa karya-karya Ibnu Arabi bersifat sangat akademis, filosofis dan begitu canggih, sehingga amat sulit untuk dapat dipahami oleh kebanyakan orang. Lebih-lebih karya antologi puitiknya, seperti Tarjuman ini, atau“tausyihat”nya. Sedemikian rumitnya memahami karya-karya Ibnu Arabi, sebagian orang meragukan bahwa karya-karyanya tidak dihasilkan dari kesungguhan mental dan intelektual, melainkan dari ilham dan pengalaman mistiknya.

Tarjuman adalah salah satu kumpulan puisi mistisnya yang paling dikenal luas, sekaligus paling sulit diterjemahkan. Sayang, tidak banyak buku yang mengupas tuntas buku ini. Saya kira hanya pembaca yang amat terpelajar yang sabar dan sudah terlatih dengan kepekaan mendalam dan tinggi pada keilmuan Islam ; teologi, yurisprudensi (fiqh), sejarah dan filsafat yang diharapkan mampu memahami karya-karyanya dengan baik. Pembaca yang terbiasa dengan pemahaman Islam tekstualis dan eksoteris bukan hanya tidak mampu mengapresiasi, melainkan juga sering salah paham, apriori, tersesat, menyesatkan, mengafirkan dan bahkan berusaha membunuhnya. Saya adalah bagian dari orang awam, tetapi saya tidak ingin menyesatkan orang lain apalagi mengkafirkan dan menghalalkan daranya. Saya ingin memahami dengan sebaiknya-baiknya tentang pikiran orang besar ini sejauh yang dapat saya lakukan. Untuk ini saya harus berjalan dengan tertatih-tatih, meletihkan, “menyiksa” dan sangat mungkin gagal.

Gagasan Ibnu Arabi

Gagasan utama sufi besar ini adalah doktrinnya tentang Wahdah al Wujud (kesatuan wujud, Kesatuan Eksistensi) dan Al Insan al Kamil (manusia paripurna) atau Hakikat Muhammadiyyah. Gagasannya yang kedua ini dielaborasi lebih tajam oleh pengagumnya Abd al Karim al Jili. Karya al Jili; “Al Insan al Kamil fi Ma’rifah al Awakhir wa al Awail”, agaknya diinspirasi kuat oleh pikiran-pikiran Ibnu Arabi. Melalui doktrin Wahdah al Wujudnya dia menegaskan bahwa Tuhanlah satu-satunya Eksistensi yang riil. Segala hal dalam ruang semesta adalah kenihilan belaka. Lenyap. Tuhan adalah Realitas dalam segala yang wujud. Salah satu ucapannya dalam “Al Futuhat al Makiyyah” yang sering dikutip orang adalah :

فلولاه ولو لا نا لما كان الذى كان

Andai saja tiada Dia
Dan tiada aku
Niscaya tiadalah yang ada

Atau “Wa fi Kulli Syay-in lahu Aayah tadullu ‘ala Annahu ‘Ainuhu”.[2]

“Dan pada segala hal ada tanda yang menunjukkan bahwa ia adalah Dia”

Pada saat lain Ibnu Arabi juga mengatakan :

رأيت الحق فى الاعيان حقا
وفى الاسماء فلم أره سوائى

Aku sungguh melihat
Sang Kebenaran
Dalam realitas-realitas
Dalam nama-nama
Aku tidak melihat semuanya
Kecuali Aku[3]

Gagasan “wahdah al wujud” ini sejatinya bukan hanya milik Ibnu Arabi, melainkan juga semua sufi terkemuka lainnya. Jauh sebelumnya doktrin ini menjadi corak sufisme Husain Manshur al Hallaj (w. 922 M, sang sufi martir yang legendaris itu. Abu Yazid al Bisthami (w. 261 H/875M), Abu al Qasim al Junaidi al Baghdadi (w. 911 M) dan Abu Hamid al Ghazali (w. 1111) juga menganut atau mendukung paham ini. Jalal al Din al Rumi (w. 1274) adalah sufi legendaris lain sesudah Ibnu Arabi, yang juga fenomenal dengan gagasan ini.[4] Ini untuk menyebut beberapa saja.

Al Hallaj, sufi martir paling fenomenal, misalnya, mengatakan dalam salah satu puisi sufistiknya :

مزجت روحك روحى كما
تمزج الخمرة بالماءالزلال
فإذا مسك شيئ مسنى
فإذ انت انا فى كل شيئ

Ruh-Mu dan ruhku bercampur
Bagai arak dan air
Jika sesuatu menyentuh-Mu,
Ia menyentuku
Engkau adalah aku
Dalam segalanya

Doktrin Wahdah al Wujud adalah puncak doktrin keberagamaan semua kaum sufi besar. Meski dengan bahasa yang berbeda-beda semua sufi terkemuka (Quthb al Awliya) memproklamirkan gagasan ini. Tetapi Ibnu Arabi sangat eksklusif dan sangat istimewa. Pendekatan atas doktrin Wahdah al Wujud nya sangat berbeda dengan para sufi lainnya. Seluruh pemikiran dan doktrin sufismenya diinspirasi atau diilhami oleh perempuan. Meskipun mungkin saja ada sufi lain yang juga mengambil inspirasi yang sama, namun saya kira Ibnu Arabi dalam hal ini sangat menonjol, sebagaimana yang tampak dengan jelas diutarakan dalam karya-karyanya, termasuk dalam buku “Tarjuman al Asywaq” ini.

Buku Tarjuman al Asywaq

Buku Tarjuman al Asywaq (Tafsir Kerinduan) berisi kumpulan (kompilasi) puisi dengan komposisi notasi yang beragam. Para santri dapat menyanyikannya dengan langgam lagu (bahar) yang berbeda-beda : Thawil, Kamil, Wafir dan lain-lain. Tidak diketahui secara pasti apakah buku ini ditulis mendahului dua buku besar di atas atau sesudahnya. Meski penting untuk ditelusuri, namun yang paling penting dari itu adalah bahwa dalam buku ini Ibnu Arabi memperlihatkan konsistensi atas gagasan-gagasan besarnya, sebagaimana akan diketahui kemudian.

Tarjuman al Asywaq ditulis ketika dia bermukim di Makkah, tahun 597 H/1214 M. Di kota suci kaum muslimin ini dia bertemu dengan sejumlah ulama besar, para sufi dan sastrawan terkemuka, laki-laki dan perempuan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan serius. Ibnu Arabi banyak meiba ilmu dari mereka. Tetapi perhatiannya tertumbuk pada beberapa orang perempuan “suci”. Dalam pendahuluan buku ini dia menyebut tiga orang perempuan. Pertama, Fakhr al Nisa, saudara perempuan Syeikh Abu Syuja’ bin Rustam bin Abi Raja al Ishbihani. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengaji kitab hadits; “Sunan Tirmizi”. Kedua, Qurrah al ‘Ain. Pertemuannya dengan perempuan ini terjadi ketika Ibnu Arabi tengah asyik Tawaf, memutari Ka’bah.

Ibnu Arabi menceritakan sendiri pengalaman pertemuannya dengan perempuan itu:

“Ketika aku sedang begitu asyik tawaf, pada suatu malam, hatiku gelisah. Aku segera keluar dengan langkah sedikit cepat (al raml), melihat-lihat ke luar. Tiba-tiba saja mengalir di otakku bait-bait puisi. Aku lalu menyenandungkannya sendiri dengan suara lirih-lirih.

ليت شعرى هل دروا أى قلب ملكوا
وفؤادى لو درى أي شعب سلكوا
أتراهم سلموا أم تراهم هلكوا
حار ارباب الهوى فى الهوى وارتبكوا

Aduhai, jiwa yang gelisah
Apakah mereka tahu
Hati manakah yang mereka miliki

O, relung hatiku
Andai saja engkau tahu
Lorong manakah yang mereka lalui

Adakah engkau tahu
Apakah mereka akan selamat
Atau binasa

Para pecinta bingung akan cintanya sendiri
Dan menangis tersedu-sedu[5]

Tiba-tiba tangan yang lembut bagai sutera menyentuh pundakku. Aku menoleh. O, seorang gadis jelita dari Romawi. Aku belum pernah melihat perempuan secantik ini. Dia begitu anggun. Suaranya terdengar amat sedap. Tutur-katanya begitu lembut tetapi betapa padat, dan sarat makna. Lirikan matanya amat tajam dan menggetarkan kalbu. Sungguh betapa asyiknya aku bicara dengan dia. Namanya begitu terkenal, budinya begitu halus.

Begitu usai menyampaikan syair itu, perempuan itu mengatakan kepadaku :

“Aduhai tuan, kau memesonaku
Engkaulah kearifan zaman”[6]

Selanjutnya mengalirlah dialog antara kedua orang ini dalam suasana mesra, saling memuji, mengagumi dan dengan keramahan yang anggun. Sang perempuan memberikan komentar-komentar spiritualitas ketuhanan secara spontan atas puisi-puisi Ibnu Arabi di atas, bait demi bait. Sesudah pada akhirnya dia memperkenalkan dirinya sebagai Qurrah ‘Ain, dia pamit dan melambaikan tangan sambil mengucapkan “salam” perpisahan lalu pergi entah ke mana. Dan Ibnu Arabipun terpana. Katanya: “Tsumma inni ‘araftuha ba’da dzalik wa ‘Aasyartuha. Fara-aiytu ‘indaha min Lathaa-if al Ma’arif ma la yashifuhu waashif” (lalu aku mengenalnya sangat dekat dan aku selalu bersama dengan dia. Aku memandang dia seorang perempuan yang sangat kaya pengetahuan ketuhanan. Pengetahuannya tentang yang ini sungguh sangat luar biasa).[7]

Perempuan ketiga yang ditemuinya adalah Sayyidah Nizam (Lady Nizam), anak perawan Syeikh Abu Syuja’. Dia biasa dipanggil “’Ain al Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al Haramain” (guru besar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Ibn Arabi begitu terpesona dengan perempuan ini. Pujian-pujian kepadanya terus mengalir deras tak tertahankan: “jika dia bicara semua yang ada jadi bisu, dia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan, wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan keerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja”.[8]

Banyak komentar orang yang menyatakan bahwa buku ini merupakan refleksi-refleksi kontempelatif Ibnu Arabi atas keterpesonaannya yang luar biasa pada perempuan perawan maha elok itu. Keterpesonaan ini sekaligus pengalaman spiritualitasnya bersama Nizam diungkapkan dengan jelas dalam syairnya dalam buku ini :

طال شوقى لطفلة ذات نثر
ونظام ومنبر وبيان

من بنات الملوك من دار فرس
من أجل البلاد من أصبهان

هى بنت العراق بنت إمامى
وأنا ضدها سليل يمانى

لو ترانا برامة نتعاطى
أكوسا للهوى بغير بنان

هل رأيتم يا سادتى أو سمعتم
أن ضدين قط يجتمعان
والهوى ببيننا يسوق حديثا
طيبا مطربا بغير لسان

لرأيتم ما يذهب العقل فيه
يمن والعراق معتنقان

Betapa rinduku begitu panjang
Pada gadis kecil, penggubah prosa,
Nizam (pelantun puisi), mimbar dan bayan

Dialah putri raja-raja Persia
Negeri megah dari Ashbihan
Putri Irak, putri guruku
Sementara aku ?
O, betapa jauhnya
Moyangku dari Yaman

Andai saja kalian tahu
Betapa kami berdua
Saling menghidangkan
Cawan-cawan cinta
Meski tanpa jari-jemari

Adakah, kalian, wahai tuan-tuan
Pernah melihat atau mendengar
Dua tubuh yang bersaing
Dapat menyatukan rindu

Andai saja kalian tahu
Cinta kami
Yang menuntun kami
Bicara manis,
bernyanyi riang
meski tanpa kata-kata

Kalian pasti tahu
Meski hilang akal
Yaman dan Irak nyatanya
Bisa berpelukan[9]

Kontempelasi Ketuhanan melalui Perempuan

Puisi-puisi di atas seringkali dipahami pembaca awam dan tekstualis sebagai bentuk kerinduan Ibnu Arabi kepada seorang perempuan; sebuah kerinduan birahi, seksual dan erotis (gharami) terhadap tubuh perempuan nan cantik-jelita, yang pernah ditemuinya selama di Makkah: Sayyidah Nizam. Mereka dalam hal ini telah terjebak dalam pemahaman yang amat dangkal, gersang dan tanpa makna. Orang-orang awam memang selalu dan hanya dapat memahami ucapan verbal seseorang atau goresan kata-kata menurut arti lahiriah, literalnya. Mereka teramat sulit untuk bisa mengerti bahwa kata-kata sebenarnya adalah symbol-simbo dari pikiran dan relung hati yang amat dalam. Puisi adalah untaian kata yang sarat makna, penuh nuansa pikiran dan hati yang sulit ditebak. Maka ia memang bisa diberi makna ganda, eksoterik dan esoterik. Dalam puisi-puisi di atas, Ibnu Arabi boleh jadi memang sedang dicekam kerinduan yang membara terhadap seorang perempuan dalam arti secara fisik. Dengan kata lain kecintaan ibnu Arabi kepadanya tidak hanya secara spiritual dan intelektual, namjun juga secara fisik dan psikis. Katanya : “Jika saja tidak mengkhawatirkan jiwa-jiwa rendah yang selalu siap terhadap skandal dan hasrat kebencian, akan aku sebutkan pula di sini keindahan lahiriah sebagaimana jiwanya yang merupakan taman kedermawanan”.[10] Akan tetapi para pengagumnya menolak tafsir ini. Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi, menurut mereka memang sungguh-sungguh tengah berkontempelasi dan merefleksikan cinta yang menggelora kepada Tuhan. Katanya suatu ketika : “Kontempelasi terhadap Realitas tanpa dukungan formal adalah tidak mungkin, karena Tuhan, Sang Realitas, dalam Esensi-Nya terlampau jauh dari segala kebutuhan alam semesta. Maka bentuk dukungan formal yang paling baik adalah kontempelasi akan Tuhan dalam diri perempuan”. Dengan kata lain, merenungkan ke Ilahian, menurutnya, hanya dapat dicapai dengan merenungkan perempuan.
Refleksi dan kontempelasi Spritualitas Ketuhanan Ibnu Arabi seperti ini sebagaimana diungkapkan dalam buku ini rasanya amat sulit dapat dipahami, kecuali dengan membacaSyarh (komentar) yang ditulisnya sendiri : “Al Dzakha-ir wa al A’laq” (simpanan-simpanan dan kerinduan-kerinduan).[11] Buku komentar ini sengaja ditulis sendiri oleh Ibnu Arabi untuk menjelaskan berbagai kritik dan cacimaki orang (para ahl fiqh) yang ditujukan kepadanya. Mereka menolak puisi-puisi cinta birahi (ghazal), erotis. Ibnu Arabi dalamTarjuman al Asywaqnya yang oleh dia dihubungkan dan dianalogikan dengan cinta kepada Tuhan. Komentar yang ditulisnya di Aleppo, Damaskus, selama tiga bulan; Rajab, Sya’ban dan Ramadhan ini kemudian dibacakan Qadhi Ibnu Adim di hadapan khalayak ahli fiqh. Begitu selesai, para pengkritik kemudian mengakui kesalahannya atau ketidakpahamannya itu dan bertaubat. Meskipun begitu, masih banyak ulama yang menolak kumpulan puisi-puisi mistik ini. Menurut mereka semua puisi ini tidak sesuai dengan pengalaman-pengalaman religious, terlalu erotic, kecabulan dan amat tidak pantas.

Dari buku ini kita akan mengetahui bahwa semua kata-kata dalam puisi-puisinya itu adalah kiasan-kiasan, metafora-metafora, symbol-simbol dan rumus-rumus yang mengandung makna-makna mistis dan sarat dengan hembusan-hembusan spiritualitas ketuhanan yang menukik dan melampaui. Kata “Dzat natsr wa Nizham”, misalnya, merupakan ungkapan tentang Wujud Mutlak dan Sang Pemilik (Pengatur) alam semesta. Kata “mimbar” dimaknai sebagai “martabat-martabat” (tangga-tangga) dalam alam semesta, alam kosmos, metafisika, atau “mimbar alam semesta”, “Bayaan” bermakna “maqam risalah”(tempat kenabian).[12] Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi selalu memperlihatkan dualisme makna : lahir dan batin, tubuh dan ruh, Ketuhanan dan makrokosmos, teologis dan kosmologis, fisika dan metafisika. Ibnu Arabi mengatakan bahwa semua puisi ini berkaitan dengan kebenaran-kebenaran ilahi dalam berbagai bentuknya, seperti tema-tema cinta, eulogi, nama-nama dan sifat-sifat perempuan, nama-nama sungai, tempat-tempat dan bintang-bintang.

Adalah menarik untuk menjelaskan kalimat : “ana dhidduha”(aku lawannya) pada syair di atas. Ibnu Arabi mengatakan : “Jika anda mengetahui keadaan-keadaan kami berdua, niscaya anda mengerti satu tempat (maqam) yang tidak dapat dipahami akal pikiran. Ia adalah penyatuan sifat kasar (al qahr) dan kelembutan (al Luthf). Ini mengingatkan kita pada ucapan Abu Sa’id al Jazar : “Dengan cara apakah engkau mengetahui Tuhan?”. Jawabnya adalah dengan penyatuan dua hal yang berlawanan. Ini memang amat sulit untuk dipahami oleh akal, nalar”.[13] Ya, ini pengalaman spritualitas yang menghanyutkan, sangat ruhaniah dan irrasional. Mungkinkah bahwa ini juga adalah gagasan Ibnu Arabi tentang penyatuan yin dan yang atau Maskulinitas dan Feminitas pada satu sisi, dan tentang “Ittihad” atau “Hulul” pada sisi yang lain?.

Selain tiga nama perempuan di atas, Ibnu Arabi dalam buku ini juga menyebut sejumlah nama perempuan lain : Hindun, Lubna, Sulaima, Salma, Zainab, Laela dan Mayya. Penjelasan Ibnu Arabi terhadap nama-nama perempuan ini, meski juga mengungkapkan kerinduannya kepada mereka, karena mereka adalah nama-nama yang menyejarah dalam kehidupan masyarakat, namun lagi-lagi bagi Ibn Arabi, mereka juga merupakan simbol-simbol kerinduan Ibnu Arabi kepada Tuhan. Tetapi Lady Nizam adalah perempuan yang digilai Ibnu Arabi dan paling mengesankan sepanjang hidupnya. Dia mengatakan : “Seluruh pengetahuan ketuhanan ini berada di balik tirai Nizam, putri guruku yang perawan,Syeikhah al Haramain, maha guru dua tempat suci dan al ‘abidah (pengabdi Tuhan yang tekun)”.[14] Tampaknya dia ingin mengatakan bahwa pengetahuan tentang ketuhanan(ma’rifah Ilahiyyah) hanya bisa ditempuh melalui kontempelasi pada diri perempuan. Atau, melalui perempuanlah Tuhan ditemukan dalam Wujud-Nya yang Maha Sempurna dan Maha Indah. Wallahu A’lam.

Akan tetapi mungkin penting untuk dicatat bahwa dengan penyebutan nama-nama perempuan ini, Ibnu Arabi ingin memperlihatkan juga pandangannya tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam arti sebenarnya. Perempuan, katanya dalam Futuhat al Makiyyah, adalah jiwa yang sempurna. Ini adalah “bi hukm al Ashalah” suatu yang asali (aslinya). Antara keduanya memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang lain. Akan tetapi, meski demikian, keduanya adalah setara (sama) dalam kesempurnaannya. Ini identik dengan makna firman Tuhan “Tilka al Rusul Fadhdhalna ba’dhahum ‘ala ba’dh”(para utusan Tuhan itu satu atas yang lain Aku lebihkan). Dari aspek kerasulannya mereka sama, tidak ada yang lebih unggul. Tetapi dari aspek tugas kerasulannya, memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang lain”.[15] Memang, karena pada saat lain Tuhan juga mengatakan : “La Nufarriqu baina ahad min rusulih” (Kami tidak membeda-bedakan di antara utusan Kami). Ini agaknya merupakan pandangan Ibnu Arabi tentang relasi laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini adalah setara dalam aspek universalitas kemanusiannya, tetapi berbeda dalam tugas kemanusiannya dengan kadar yang relative, tergantung konteks sosialnya. Dalam “Al Futuhat”, Ibnu Arabi menyatakan pandangannya dengan lebih jelas :

إن النساء شقائق الذكران
فى عالم الارواح والابدان
والحكم متحد الوجود عليهما
وهو المعبر عنه بالانسان
وتفرقا عنه بامر عارض
فصل الاناث به من الذكران

Perempuan adalah saudara kandung laki-laki
Di alam ruh dan dalam tubuh kasar
Keduanya satu dalam eksistensi
Itulah manusia
Perbedaan antara mereka aksiden semata
Perempuan dan laki-laki memang dibedakan[16]

Tajalla Tuhan dalam Kosmos

Mabuk cinta Ibnu Arabi kepada Sang Kekasih juga diungkapkan dengan menyebut realitas-realitas alam ; burung-burung yang bernyanyi riang, mata rusa yang menatap tajam, sayap-sayap burung merak yang indah bagai pelangi, bunga-bunga yang mekar-mewangi, taman-taman yang teduh nan meriah bagai pelangi, puing-puing yang menggugah rindu dan mabuk kepayang, tempat-tempat persinggahan yang mengingatkan romantisme masa lalu, padang rumput yang terhampar menghijau, angin yang semilir sepoi-sepoi, musim semi yang penuh bunga warna-warni, mega yang berarak, tenang dan teduh, mata air yang mengalir, mata hari yang menghangatkan, rembulan yang bersinar lembut, senja yang temaram dan seterusnya. Dalam waktu yang sama dia juga mengutarakan isi hatinya yang kelu, merindu dan menyinta ; air mata yang menetes satu-satu, pipi perempuan yang ranum, mata yang sendu, luka di relung-relung sanubari, hari-hari perpisahan yang menghancurkan kalbu, canda ria dan celoteh yang menggemaskan, keriangan yang meledak-ledak, pelukan tubuh yang menggairahkan, nyanyi sunyi yang mengiris dan lain-lain. Ini semua diungkapkan Ibnu Arabi dalam buku kompilasi puisi sufistiknya ini.

Kajian-kajian terhadap pemikiran dan gagasan filosofis Ibnu Arabi ini menunjukkan bahwa fenomena-fenomena alam semesta (kosmos) adalah “tajalliyyat” (Penyingkapan) Tuhan dalam alam semesta. Fenomena alam semesta dalam pandangannya adalah keindahan-keindahan yang menunjukkan Eksistensi Tuhan. “Tak ada pada alam semesta ini kecuali Tuhan. Segala selain Tuhan adalah ketiadaan hakiki”. Di sinilah kita dapat memahami kembali doktrin “Wahdah al Wujud” dari sang “al Kibrit al Ahmar” ini.

Sangat menyenangkan bagi saya untuk mengungkapkan gagasan ini dari seorang murid Ibnu Arabi yang terkenal: Abd al Karim al Jili. Katanya dalam sebuah syair :

تجليت فى الا شياء حين خلقتها
فها هى ميطت عنك فيها البراقع

Engkau menyingkapkan Diri
Dalam segala sesuatu
Ketika Engkau menciptakannya
O, lihatlah
Cadar-cadar itu kini tersingkir[17]

Atau dari Ibnu ِAjibah ketika mengomentari ucapan Wahdah al Wujud nya Ibnu Athaillah. Dalam salah satu syairnya dia mengungkapkan:

أنظر جمالى شاهدا فى كل إنسان
الماء يجرى نافدا فى أس الاغصان
تجده ماء واحدا والزهر ألوان

Lihatlah Keindahan-Ku
Saksi pada semua manusia

Air mengalir,
menembus
pokok dahan-dahan

Engkau temui Dia
Mata air yang Tunggal
Dan bunga merekah
berwarna-warni[18]

Banyak syair Ibnu Arabi yang menjebak pembaca awam pada pemahaman yang amat dangkal. Beberapa di antaranya :

يامن يرانى ولا اراه كم ذا أراه ولا يرانى

Aduhai, Dia yang melihatku
dan aku tidak melihat-Nya
Betapa sering aku melihat-Nya
Dan Dia tidak melihatku

Mendengar syair ini mereka marah. Kata mereka : “Bagaimana Tuhan tidak melihat dia. Ibnu Arabi segera menjelaskannya dengan manis:

يا من يرانى مجرما ولا أراه آخذا
كم ذا أراه منعما ولا يرانى لائذا

Aduhai Dia yang melihatku pendosa
Tetapi aku tidak melihat-Nya marah
Betapa sering aku melihat-Nya pemurah
Meski Dia tidak melihat aku minta ampun

Atau syair yang diungkapkannya pada kesempatan yang lain :

فيحمدنى وأحمده ويعبدنى واعبده

Dia memujiku, aku memuji-Nya
Dia mengadi padaku, aku mengabdi padanya

Mereka juga marah. Bagaimana mungkin Tuhan menyembah dia. Ibnu Arabi segera menerangkan. Arti “Dia memujiku” adalah Dia senang karena aku taat pada-Nya, dan arti “Dia mengabdi padaku” adalah Dia mengabulkan doaku.

Kesatuan Agama-agama

Pada bagian lain dari buku kompilasi “Tarjuman al Asywaq” ini, kita menemukan pernyataannya yang sering disebut sebagai pandangan “Wahdah al Adyan” (kesatuan agama-agama) dari sang sufi besar ini. Ibnu Arabi menyatakan:

لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثان وكعبة طا ئف
والاواح توراة ومصحف قرآن
أدين بدين الحب اين توجهت
ركا ئبه فالحب دينى وإيما نى

Hatiku telah siap menyambut
Segala realitas
Padang rumput bagi rusa
Kuil para Rahib

Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang tawaf
Sabak-sabak Taurat
Lembaran al Qur’an

Aku mabuk Cinta
Kemanapun Dia bergerak
Di situ aku mencinta
Cinta kepada-Nya
Adalah agama dan keyakinanku[19]

Semua penulis dan para pembaca Ibnu Arabi biasanya mengomentari syair-syair di atas sebagai sikap dan pandangan dasar sang gnostik besar ini tentang toleransi dan kesatuan agama-agama. Mereka memahami kata-kata di atas menurut makna literalnya. Pernyataan ini boleh jadi memang benar adanya sebagai konsekuensi lebih lanjut dari doktrin Wahdah al Wujudnya sebagaimana sudah sedikit diurai. Semua penganut agama, dengan nama yang berbeda-beda dan dengan cara peribadatan dan penyembahannya masing-masing, pada hakikatnya hendak mengekspresikan kecintaan kepada Tuhan. Semua pemeluk agama bergerak menuju Tuhan yang satu dan sama itu. Mereka sama-sama mencintai, mendambakan Cinta-Nya, mendekat dan ingin menyatu dalam dekapan-Nya. Karena Dialah Pencipta segala yang ada dan Dia mencintai semuanya.

Jalan dan cara pendakian (manusia) beragam
Tetapi mereka berjalan ke arah kebenaran
Yang Satu
Dan para pendaki jalan kebenaran itu
Mencari jalan sendiri-sendiri

Bahasa kita beragam tetapi Engkaulah
Satu-satunya Yang Maha Indah
Dan masing-masing kita
menuju Sang Maha Indah Yang Satu itu

Para sufi besar selalu mengemukakan hadits Qudsi yang sangat terkenal, tentang alasan Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta. “Kuntu Kanzan Makhfiyyan fa Ahbabtu an ‘Uraf, fa Khalaqtu al Khalq, Fa bihi ‘Arafuni” (Aku adalah Simpanan berharga yang tersembunyi. Aku ingin sekali dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk. Maka dengan itu mereka mengenalku”. Jadi Tuhan menciptakan alam semesta karena dia Mencintai-Nya dan Dia ingin dicinta. Dan Cintalah yang menyatukan segala yang terserak.

Akan tetapi tafsir di atas tidaklah satu-satunya yang bisa dikemukakan. Ibnu Arabi lagi-lagi sebenarnya sedang asyik dimabuk cinta yang menyala-nyala ketika menatap Realitas Yang Tunggal menampakkan diri dalam wujud semesta. Dia mengungkapkan gairah cinta itu dalam kata-kata metaforis yang tak biasa. Ibnu Arabi menggambarkan “hati yang membuka diri bagi realitas-realitas” sebagai hati yang bergerak ke sana kemari dalam merespon “al Tajalliyyat al Iahiyyah” (Ketersingkapan Kehendak-Kehendak Tuhan) dalam alam semesta yang berwarna-warni dan beragam karakter, sifat dan kehendak. Makna “Padang rumput bagi rusa” baginya merupakan penggambaran hatinya yang lepas dan bebas dalam mencinta, bagai rusa yang bergerak dan berlari-lari di padang rumput yang luas. Ibnu Arabi sengaja menyebut rusa dan bukan binatang yang lain, karena, katanya, meskipun mata kuda lebih lebar, tetapi mata rusa lebih tajam. Dan Mata Tuhan niscaya lebih tajam dari mata siapapun. Dia Melihat yang kasat mata, yang telanjang dan yang tersembunyi di lubuk-lubuk nurani yang pekat dan sunyi senyap. Mengenai kalimat : “Hati adalah rumah berhala-berhala”, dia mengatakan: “Oleh karena Hakikat Yang Dicari (al Haqa-iq al Mathlubah) kepada siapa semua menyembah dan menghambakan diri pada-Nya itu menetap di dalamnya, maka hati disebut ‘watsan’ (yang menetap, yang kokoh). Ibnu Arabi berharap cintanya kepada Tuhan tetap kokoh dan menetap selama-lamanya di relung-relung hatinya yang paling dalam. Dan “oleh karena ruh-ruh luhur (al Arwah al ‘Alawiyyah) mengelilingi hatinya, maka ia dinamai “ka’bah”. Hati yang menerima ilmu-ilmu pengetahuan Musa dari Ibrani (al ‘ulum al Musawiyyah al Ibraniyyah) disebut papan-papan (alwah). Hati yang mewarisi pencerahan kenabian Muhammad (Al Ma’arif al Muhammadiyyah al Kamaliyyah), adalah lembaran-lembaran yang menampung seluruh essensi pengetahuan (Jawami’ al Kalim) bagi hatinya.[20] Pada akhirnya dia mengatakan : “tidak ada agama yang dipeluk manusia di manapun, setinggi agama yang dibangun di atas cinta dan kerinduan (al mahabbah wa al syauq). Ini adalah agama Muhammad. Dialah sang terkasih dan yang dirindukan sepanjang hari sepanjang malam”.[21]

Sebagaimana selalu dikemukakan para pengaji Tasawuf, bahwa Tuhan mencipta makhluk-Nya karena Dia ingin dikenal (dicintai). Sebelumnya Dia adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Dalam hadits Qudsi disebutkan :

كنت كنزا مخفيا فأحب ان أعرف فخلقت الخلق فبى عرفونى

“Aku adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi. Aku ingin dikenal. Maka Aku ciptakan makhluk. Berkat Aku mereka mengenalku”

Demikianlah. Sufi legendaris yang agung ini telah menyenandungkan cintanya kepada Tuhan dengan cara yang memang sangat luar biasa. Dia mabuk kepayang dalam cinta kepada Tuhan, cinta yang membara, bergelora dan menghanyutkan. Cinta apa yang ada di langit dan cinta yang ada di bumi. Dia terserap, luruh dan hilang bentuk dalam rindu dendam kepada-Nya.

Sampai di sini aku tidak bisa berkata apa-apa di hadapan orang besar ini. Lidahku kelu. Tanganku tak sampai. Otakku kandas. Maka aku biarkan sang Syeikh berkelana sendiri ke negeri antah berantah atau ke puncak langit alam semesta, dan biarkanlah aku berdiri di sini, di bumi ini. Betapa rendah.

Referensi :
1. Tarjuman al Asywaq, Dar al Shadir, Beirut, 1966
2. Al Dzakhair wa al A’laq, Dar al Shadir, Beirut, 1966
3. Al Futuhat al Makiyyah,Dar Ihya al Turats al Arabi, Beirut, cet.I
4. Fushus al Hikam, Mutiara Hikmah 27 Nabi, (terjemahan Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti,Islamica, Yogyakarta, Cet. I, 2004,
5. Syarh al Hikam, Ibnu Athaillah al Sakandari, “Iqazh al Humam”, Ibnu ‘Ajibah
6. Al Kasyf ‘an Haqaiq al Shufiyyah, Mahmud Abd ar Rauf
7. Al Tashawwuf al Islami fi al Adab wa al Akhlaq, Zaki Mubarak

_________________________________
[1] Imam al Suyuhti, pendukung setia Ibnu Arab dalam kitabnya “Tanbih al Ghabi fi Tabri’ah Ibnu Arabi” menceritakan bahwa ketika Ibnu Arabi di Mesir, ia pernah dituduh sebagai kafir zindik oleh sebagian ulama di hadapan Izz al Din bin Abd al Salam. Beliau diam saja. Ini menurut banyak orang, menunjukkan bahwa al Izz sepakat dengan pikiran-pikirannya. Akan tetapi usai pengajian bubar. Izz menjelaskan bahwa dia sengaja diam, karena mereka yang hadir adalah para ahli fiqh. Mereka, menurutnya, adalah kelompok yang paling membenci ahli tasawuf. Di negeri yang sama, gara-gara pandangannya, Ibnu Arabi, pernah akan dibunuh beramai-ramai. Tetapi Syeikh al Bujai menyelamatkannya. Katanya kepada rakyat yang marah : “dia ini orang yang lagi ngaco (syathahat) dan mabuk. Orang ini seperti ini tidak perlu dimarahi. Harap maklum”.
[2] Al Futuhat, III, h. 245. Di pesantren, Syair ini ditemukan dalam sedikit perbedaan kata :“Wa Fi Kulli Syaiy-in lahu Aayah, Tadullu ‘ala Annahu Wahid” (dan dalam segala hal adalah bukti bahwa Dia adalah Esa). Ibnu Arabi merubah dari kata “Wahid” menjadi “Ainuhu”).
[3] Al Futuhat, III, hl. 532
[4] Ketika masih belajar di pesantren saya sering mendengar sebuah syair dari panyair Arab klasik; Labid :
Alaa, Kullu Syai-in ma khala Allah Bathil,
wa Kullu Na’im la Mahaalah Zail”.
Ingatlah, segala hal selain Allah adalah tiada
dan segala kenikmaan pastilah akan sirna
[5] Muqaddimah Tarjuman, h. 11
[6] ibid, h. 11
[7] Tarjuman, h. 11
[8] Muqaddimah Tarjuman, h. 8
[9] Tarjuman, h. 85
[10] Tarjuman, h. 11
[11] Dalam buku Tarjuman al Asywaq, terbitan Dar al Shadir, Beirut, 1966, penjelasan ini ditulis dalam catatan kaki.
[12] Dzakhair, h. 83
[13] Dzakhair, h. 85
[14] Dzakhair, h. 84
[15] Ibid, h. 82
[16] Al Futuhat, III, h. 86
[17] Baca : Iyqazh al Humam fi Syarh al Hikam, h. 43
[18] Ibid, h. 43
[19] Tarjuman, h. 43-44
[20] Dzakhair, h. 43-44
[21] Dzakhair, h. 44

How you feel for this post?
Share your vote!
33
0
1
1
1
2
1
0
0