Pidato kebudayaan: RINDU SANG DARWISH PENGEMBARA

0
1918

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى مَلَاءَ قُلُوبَ أَوْلِيَآئِهِ بِمَحَبَّتِهِ. وَاخْتصَّ أَرْوَاحَهُمْ بِشُهُودِ عَظَمَتِهِ, وَهَيَّأَ أَسْرَارَهُمْ لِحَمْلِ أَعْبَآءِ مَعْرِفَتِهِ. فَقُلُوبُهُمْ فِى رَوْضَاتِ جَنَّاتِ مَعْرِفَتِه يُحْبَرُونَ. وَأَرْوَاحُهُمْ فِى مَلَكُوتِهِ يَتَنَزَّهُونَ. فَاسْتَخْرَجَتْ أَفْكَاُرهُمْ يَوَاقِيتَ الْعُلُومِ. وَنَطَقَتْ أَلْسِنَتُهُمْ بِجَوَاهِرِ الْحِكَمِ وَنَتَائِج الْفُهُومِ. فَسُبْحَانَ مَنِ اصْطَفَاهُمْ لِحَضْرَتِهِ, وَاخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ. فَهُمْ بَيْنَ سَالِكٍ وَمَجْذُوبٍ , وَمُحِبٍّ وَمَحْبُوبٍ. أَفْنَاهُمْ فِى مَحَبَّةِ ذَاتِه. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحَابَتِه.

Segala pujian hanya bagi Allah
Yang menuangkan cinta putih di hati para kekasih-Nya
Yang melimpahkan ruh kepada mereka untuk menyaksikan ke-Agungan-Nya
Yang menyiapkan kebeningan jiwa mereka untuk menanggung lelah bagi mengenal-Nya

Hingga hati mereka dilimpahi kegembiraan di taman-taman keintiman bersama-Nya.
Ruh-ruh suci mereka bersih saat berada di singgasana Istana-Nya
Hingga pikiran mereka menghembuskan mutiara-mutiara pengetahuan
Lidah-lidah mereka menyenandungkan kidung permata-permata kearifan
dan buah-buah pengetahuan ketuhanan

Aduhai betapa agung mereka yang terpilih hadir di pangkuan-Nya
dan menjadi kekasih-Nya
Mereka bertemu bagai antara pencari dan Dambaannya,
antara pecinta dan Yang dicinta
Mereka tenggelam dalam lautan cinta-Nya

Aku bersaksi tidak satupun yang dipuja selain Allah
Aku bersaksi, Muhammad, sang penghulu, adalah hamba, rasul dan yang terpilih
Semoga kedamaian dan keselamatan atas Muhammad, sang pemimpin, sang penghulu
Semoga kedamaian dan keselamatan juga bagi keluarga
Dan para sahabat sang Nabi.

كَيْفَ اَنْتَ تَحْتَ أَطْبَاقِ الثَّرَى يَا شَوْقِى ؟
وَكَيْفَ أَنْتَ فِى مَرْقَدِكَ يَا حَنِينِى؟
إِذَا غِبْتَ عَنِّى فَشَمَائِلُكَ مَلَآ رُوحِى .
وَإِذَا نَأَيْتَ عَنْ بَصَرِى
فَأَنْتَ أَمَامَ عَيْنِ بَصِيرَتِى.
وَلَئِنْ رَحَلْتَ
فَرُوحُكَ فِى نَفْسِى مُقِيمٌ “

Duhai rinduku
Bagaimana keadaanmu di bawah tumpukan lempung basah ini?
Bagaimana engkau di tempat istirahmu, duhai kangenku
Bilamanapun aku tak lagi bisa memandang wajahmu,
Seluruh keindahanmu memenuhi ruhku
Bilapun engkau telah jauh dari tatapan mataku
Aku melihatmu dengan mata jiwaku
Dan meski engkau telah pergi jauh
Ruhmu ada dalam palung jiwaku.

Nama itu terus saja mengalir bagai air zam-zam di Makkah. Ia menjadi sumber kehidupan beribu manusia yang tak pernah berhenti, dan yang tak pernah kering, sekaligus menyegarkan. Nama itu adalah Gus Dur. Dalam buku “Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur”, saya sudah menulis : “Gus Dur, adalah nama yang akan dikenang dan dirindukan berjuta orang, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun tahun dan untuk rentang waktu yang panjang. Meski ia telah tak lagi bersama kita di sini dan telah diistirahkan di bawah tanah lempung, ia masih terus saja dikunjungi banyak orang, setiap hari dan setiap jam, siang maupun malam, entah sampai kapan. Namanya masih disebut-sebut, diceritakan, didongengkan dan didoakan dalam gempita siang maupun dalam sepi malam. Pesan-pesannya terus direproduksi dalam kata-kata, dalam lukisan, dalam puisi dan dalam senandung folklore. Dengarkanlah nyanyian folklore yang indah ini.

Folklore : Song for Gus Dur

Ku masih belum begitu percaya
Kau telah kembali pulang
Tak bolehkah kau lebih lama
Untuk kita Ajari kita

Masih segar di ingatanku
Kau kikis kerasnya dinding beku
Kau beri tempat yang terpinggirkan
Kau beri ruang pada yang terbuang

Jadikan dirimu perisai kemanusiaan
Oh, Selamat Jalan
Selamat Jalan

Ajari kita bicara
Hidup kita penuh warna
Berbeda itu karunia

Kau wariskan keindahan
Kau ajarkan kedamaian
Bagi kawan atau lawan

Kau berjuang demi bangsa
Beri pesan yang bermakna
Jalani hidup bersama

Janganlah kita berduka
Kita semua pantas bangga
Kau adalah guru bangsa

Gus Dur, Sang Pengabdi Kemanusiaan

Terlampau sulit untuk dapat disangkal bahwa Gus Dur adalah symbol pembaruan dalam pemikiran dan kehidupan social di dunia muslim, khususnya di Nusantara. Hampir seluruh hidupnya diabdikan bagi kepentingan ini. Ia hadir dengan pikiran dan gagasan yang mengagumkan, cemerlang, mencerahkan sekaligus menggoncangkan, dengan caranya sendiri yang unik, eksklusif, menyusupi ruang-ruang tradisi dan kadang diselimuti misteri. Sumber-sumber intelektualismenya sangat luas, mendalam dan terbentang lebar. Gus Dur tidak hanya pandai mengaji kitab suci, sabda Nabi, dan khazanah keilmuan Islam klasik yang menjadi basis pengetahuan awalnya, tetapi juga menelaah beribu buku dari dan dalam beragam bahasa. Ia membaca dengan lahap dan menyerap dengan riang pikiran-pikiran para tokoh dunia, klasik maupun modern, tanpa melihat asal usul dan keyakinan mereka, hingga piawai dalam pengetahuan social, budaya, seni, musik, sastra, politik dan agama-agama dunia. Pengetahuan Gus Dur melampaui sekat-sekat primordialisme.

Manusia dan kemanusiaan adalah focus pikiran dan perhatian utama Gus Dur, siang dan malam serta pada setiap nafas yang berhembus. Ia mencintai manusia dengan seluruh pikiran dan hatinya. Ia seperti tak pernah lelah dan bosan bicara bahwa manusia siapapun dia wajib dilindungi hak-hak dasarnya. Ia terus mendengungkan gagasan bahwa agama hadir untuk membebaskan manusia dari situasi dunia yang gelap menuju dunia yang bercahaya. “Li Tukhrij al-Nas min al-Zhulumat ila al-Nur”. Dunia gelap adalah dunia yang dikepung kebodohan dan kezaliman, dan dunia bercahaya adalah dunia yang diliputi ilmu pengetahuan dan keadilan. Ia membaca dengan penuh kekaguman kata-kata Nabi Muhammad bahwa pekerjaan manusia yang paling utama dan paling disukai Tuhan adalah hadir bersama manusia, melepaskan penderitaan mereka, menghilangkan rasa lapar dan haus mereka, membagi kegembiraan di hati mereka, merajutkan tali persaudaraan di antara mereka, menegakkan keadilan dan menebarkan jaring-jemaring perdamaian dan cinta. Gus Dur bekerja keras menerjemahkan gagasan kemanusiaan itu baik melalui tulisan-tulisannya, ceramah-ceramahnya maupun dan terutama dalam sikap hidupnya sehari-hari di mana dan kapanpun. Dengan penuh gairah cinta, ia berjalan tanpa rasa gentar, menerjang terjang setiap penghalang, untuk mewujudkan impian-impiannya itu. Kepalanya bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak. Ia bergerak-gerak begitu aktif, acap meletup-letup, memercik, menumpahkan lahar panas, lalu mengaliri tanah-tanah gersang dan kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah-tanah itu berubah menjadi gembur-subur. Bumi manusia menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.

Dalam konsep etika spiritual, pengabdian kepada kemanusiaan tersebut oleh Mulla Sadra dinyatakan sebagai proses perjalanan dari makhluk untuk makhluk bersama Sang Maha Benar (Al-Khaliq/Tuhan) : al-Safar min al-khalq ila al-khalq bi al-Haq. Ini adalah kebijakan Tuhan yang tertinggi ; “al-Hikmah al-Muta’aliyah”. Maka, pengabdian manusia kepada kemanusiaan pada hakikatnya merupakan puncak pengabdian mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Syams Tabrizi, sang Darwisy misterius mengatakan : “Kita harus belajar mencintai makhluk Allah”. Katanya :

وَمَا لَمْ نَتَعَلَّمْ كَيْفَ نُحِبُّ خَلْقَ اللهِ فَلَنْ نَسْتَطِيعَ أَنْ نُحِبَّ حَقًّا. وَلَنْ نَعْرِفَ اللهَ حَقًّا

Selama kita tidak belajar bagaimana mencintai makhluk Allah, kita tidak akan bisa benar-benar mencintai siapapun, dan kita tidak akan mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”.
Pikiran, kerja dan sikap Gus Dur disambut dengan penuh kegembiraan dan empati bukan saja oleh para pengikutnya yang sekeyakinan, melainkan juga mereka yang berada di luar keyakinan dirinya. Mereka yang disebut akhir ini serentak meneriakkan dengan riang : “Apa yang dikatakan dan dijalani Gus Dur, itulah yang difirmankan Yesus, diajarkan Moses, dituturkan Sang Budha, disabdakan dalam Baghawad Gita, ditulis dalam Tipitaka dan diceramahkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Melalui Gus Dur kata-kata Yesus, Moses, Budha Gautama, Gita dan Hazrat Mirza, menjadi hidup kembali”.

Gus Dur Sang Darwisy Pengembara

Maulana Jalal al-Din Rumi, sang sufi penyair terbesar, menyebut gurunya : “sang mentari dari Tabriz”. Dan saya menyebut Gus Dur sebagai sang mentari dari Nusantara. Matahari dari Tabriz itu dikenal sebagai darwisy pengembara. Dan Gus Dur adalah juga sang darwisy pengembara itu. Sebagaimana umumnya pengembara, ia sering menjadi subyek yang aneh, asing, dicurigai atau bahkan dimusuhi oleh mereka yang tak mengerti, tak paham, dan tak tercerahkan. Manakala sang pengembara memasuki suatu perkampungan atau perkotaan, ia akan dianggap si “nyleneh”, “nyentrik” atau bahkan “bahul”, “bahlul” atau “majnun”, oleh orang-orang di kampung dan di kota itu, bukan hanya karena celotehnya yang tak jelas dan tak mudah dimengerti tetapi juga karena pikiran-pikiran dan sikap-sikapnya yang tak lazim. Dan terhadap semua itu, Gus Dur tetap saja diam. Ia mengerti bahwa mengubah tradisi dan kebiasaan memang tak mudah dan itu memerlukan kesantunan.

Para darwisy pengembara adalah para pencinta manusia. Bagi mereka tubuh-tubuh manusia adalah suci, karena di dalamnya berdiam sifat-sifat keilahian. Manusia dalam pandangan para darwisy adalah tempat Tuhan merindukan Diri-Nya Sendiri. Manusia adalah pancaran Cahaya dan Cinta-Nya. Di dalam tubuh kasarnya tersimpan magma spiritualitas Ilahiyah yang sanggup menggenggam dunia atau melepaskannya. Dengan demikian kehormatan manusia harus dijaga.

Sa’di Syirazi, sufi-penyair besar dari Persia, meniupkan terompet kemanusiaan itu dalam puisinya yang indah :

أَىْ / بَنُوا آدَمَ جِسْمٌ وَاحِدٌ اِلَى عُنْصُرٍ واحِدٍ عَائِدُ
إِذَا مَسَّ عُضْواً أَلِيمُ السَّقَامِ فسَائِرُ أَعْضَآءِهِ لاَ تَنَامُ
إِذَا أَنْتَ لِلنَّاسِ لَمْ تَأَلَّمْ فَكَيْفَ تَسَمَّيْتَ بِالْآدَمِى

O, Ya
Anak-anak Adam adalah satu
Kepada keasalan yang Satu ia (datang) dan kembali
Bila lara menyentuh satu tubuh
Tubuh-tubuh yang lain bergetar, terjaga-jaga
Bila kau tak merasa lara
Bagaimana mungkin menyebut diri anak Adam

Di bawah pandangan ruh kemanusiaan (al-Ruh al-Insaniyyah) itu Sa’di menatap para bijakbestari (al-Arifin), sambil mengatakan :

أَنَّ الْعَارِفَ اَوْ الصُّوفِى هُوَ الَّذِى يَخْدُمُ النَّاسَ, لاَ الَّذِى يَخْتَار الْعُزْلَةَ وَالْاِعْتِكَافَ. وَاَنَّهُ لَا بُدَّ لَهُ اَنْ يَتَزَوَّدَ بِالْعِلْمِ. وَيَطْلُبُ مِنْ كُلِّ النَّاسِ حَتَّى الْحُكَّامِ اَنْ يَتَخَلَّقُوا بِأَخْلاَقِ الدَّرْوِيشِ.

“Seorang bijakbestari adalah dia yang mengabdi kepada dunia manusia, bukan yang memilih menepi dalam sepi dan berdiam diri di atas sajadah. Untuk pengabdian itu dia harus berbekal ilmu pengetahuan. Dia meminta semua manusia dan para pejabat negara, agar mengenakan etika Darwisy. Katanya lagi :

لَيْسَتِ الْعِبَادَةُ سِوَى خِدْمَةِ النَّاسِ لَيْسَتْ بِالتَّسْبِيحِ وَالسَّجَادَةِ وَارْتِدَآءِ الدَّلِق
أَبْقَ أَنْتَ عَلَى عَرْشِ سُلْطَانَتِكَ بِأَخْلَاقٍ طاهِرَةٍ وَكُنْ دَرْوِيشاً

Pengabdian kepada Tuhan
Adalah pelayanan kepada manusia
Bukan hanya dan semata memutar biji tasbih
Menggelar sajadah dan menyandang kain sorban
Duduklah kau di atas singgasana kekuasaan
Dengan etika yang bersih
Jadilah kau seorang Darwisy

Kaum pengembara (Ghuraba) akan selalu hadir pada setiap situasi sejarah social yang sarat konflik, menjelang runtuh atau ketika jalan sejarah tak lagi lurus. Mereka hadir untuk mendakwahkan, mengajak dan menawarkan kepada masyarakat manusia untuk kembali ke ide keasalan dan janji primordial manusia, saat mereka belum mewujud di bumi. Tuhan mengatakan: “Alastu bi Rabbikum?. Qalu Bala” (Bukankah Aku Tuhan kalian.” Mereka menjawab : “Ya, Engkau Tuhan kami. Engkaulah Satu-satunya yang Eksis. Para pengembara memproklamirkan kembali doktrin Tauhid itu, seraya menyerukan agar manusia kembali kepada Dia, kepada Siapa seluruh yang mewujud di jagat raya, harus menyerah, bersimpuh, luruh dan menundukkan diri sepenuhnya dan seluruhnya. Mereka juga menjajakan tentang kehanifan (kejujuran, ketulusan dan jalan lurus). Di atas landasan itu, mereka, tampil gagah bagai kesatria untuk memberangus praktik-praktik kekuasan yang despotik, tiranik dan membodohi rakyat jelata yang selalu direndahkan, dipinggirkan dan dikucilkan. Pada saat yang sama mereka hadir untuk menancapkan kembali pilar-pilar kemanusiaan yang terkikis, hilang atau diberangus oleh otoritas-otoritas social, politik dan keagamaan yang bekerja demi kepentingan dan kekuasaan diri, keluarga, kelompok atau golongannya. Ide-ide kemanusiaan yang ditawarkan para darwisy itu tak pelak mengguncang dan merontokkan setiap otoritas politik, kebudayaan dan keagamaan tersebut. Para pemegang otoritas itu lalu menggunakan tangan kekuasaannya untuk menggerakkan massa awam guna melawan sang darwisy pengembara itu. Mereka bukan tak mengakui kehebatan, kebenaran, kejujuran dan kecemerlangan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan cerdas sang darwisy pengembara itu, melainkan karena semata-mata cemburu buta kepadanya atau takut terhempas dan “melarat”.

Di jalan cinta, seratus bahaya terbentang
Di taman rindang berbunga,
Para perindu, tak punya jalan menghindar
dari badai dan semak ilalang.
Sang pengembarapun menerjang
Bilapun ia dipaksa pergi
Ia akan tetap berdiri tegar, tanpa gentar
Sambil berkata : “The death is the gate of Life”

Para pengembara seperti itu, dalam perjalanan sejarahnya kemudian, menjadi para kekasih dan sahabat Tuhan. Al-Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi, sang maestro dalam sufisme, menyebut : “para pengembara akan selalu hadir pada setiap zaman sampai dunia berakhir, berantakan dan hancur lebur. Tak boleh ada zaman kosong tanpa sang pengembara, sang wali, sang kekasih, sang sahabat. Ini karena mereka adalah para penerus dan pewaris risalah kenabian. Mereka adalah para penjaga bumi dan dunia kemanusiaan. Bila mereka tak hadir, maka dunia akan kacau balau, porakporanda”. Al-Hujwiri mengatakan :

جَعَلَهُمُ اللهُ أَوْلِيآءَ الْعَالَمِ حَتَّى اَنَّ الْاَمْطَارَ تَمْطُرُ مِنَ السَّمَآءِ بِبَرَكَتِهِمْ وَيَنْبُتُ النَّبَاتَ مِنَ الْاَرْضِ بِصَفَآءِ اَحْوَالِهِمْ وَيَنْتصِرُ الْمُسْلِمُونَ عَلَى الْكُفَّارِ بِهِمَّتِهِمْ .وَلَولَا الْاَوْلِيَآءُ لَفَسَدَ نِظَامُ الْعَالَمِ وَانْهَارَ كَمَا تَنْهَارُ الدَّوْلَةُ بِدُونِ مُوَظَّفِين وَحُرَّاسٍ وَجُنُودٍ

“Allah menjadikan mereka para sahabat dunia, sehingga, berkah kehadiran mereka, hujan akan turun dari langit (lalu menyuburkan tanah-tanah yang gersang) dan menumbuhkan pepohonan dari tanah subur. Berkat cita-cita mereka, orang-orang yang menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan (al-Muslimun) akan mengalahkan musuh-musuh mereka yang ingkar kepada kebenaran (al-Kuffar). Andaikata mereka tak hadir, system dunia akan luluh-lantak, dan menjadi chaos bagaikan Negara tanpa pemerintah, tanpa polisi dan tanpa tentera.”

Gus Dur adalah darwisy pengembara di belantara raya bumi manusia. Ia seperti tak pernah lelah berjalan, mengelana ke mana-mana, ke negeri antah berantah, menuruni lembah-lembah, mengarungi gurun pasir yang kering kerontang dan gersang, mendaki gunung-gemunung yang terjal dan meliuk-liuk, menapaki jalan setapak yang lengang, atau menerobos rimbaraya yang penuh ilalang dan onak-duri, meski ia harus sendirian karena yang lain tak lagi peduli. Di sana ia melihat keindahan-keindahan semesta, ciptaan Tuhan.

Gus Dur adalah seorang pengembara untuk dunia hari ini, paling tidak di sini, di negeri ini. Dia telah meninggalkan jejak di mana-mana, bukan hanya di sini, Jombang, tanah dan tempat ia dilahirkan, tetapi juga di bumi Nusantara dan berbagai negeri yang jauh, dengan langkah yang begitu mengesankan ; menelusup ke jantung rakyat jelata dan merenggut hati mereka diam-diam. Dan Gus Dur telah menitipkan pikiran-pikiran dan hati nuraninya kepada sahabat-sahabat yang ditinggalkannya : “Gusdurian”. Meski sebagian orang menyebut pikiran-pikiran itu “menyimpang”, atau “sesat”, tetapi sesungguhnya, ia adalah pikiran-pikiran para bijak bestari, para kekasih Tuhan, para zahid dan mereka dianugerahi kearifan-kearifan perennial (al-Hikam al-Ilahiyyah).

“Para bijakbestari adalah manusia-manusia pilihan Tuhan, karena mereka telah mengerahkan seluruh hidupnya untuk memeroleh keutamaan-keutamaan jiwa dan pikiran-pikiran manusia. Mereka membagi kebaikan perennial itu dengan suka rela. Mereka adalah lampu-lampu dunia dan orang-rang yang meletakkan dasar-dasar etika kemanusiaan. Andaikata mereka tidak hadir, dunia manusia berada dalam kegelapan dan kehancuran”.

انَّ الْغُرَبَآءَ هُمْ أَهْلُ الْاِسْتِقَامَةِ. هُمُ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ الدُّنْيَا عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ, وإذَا الْتَبَسَتِ الْاُمُورُ. هُمْ أَهْلُ الْخَيْرِ الَّذِينَ ثَبَتُوا عَلَى الْحَقِّ وَاسْتَقَامُوا عَلَى دِينِ اللهِ وَوَحَّدُوا اللهَ وَأَخْلَصُوا لَهُ الْعِبَادَةَ. هَؤُلاَءِ هُمُ الْغُرَبَآءُ. فَطُوبَى لِلْغُرَبَآءِ

Orang-orang asing itu,
adalah mereka yang selalu teguh
(pada prinsip-prinsip kemanusiaan)
Orang-orang yang memperbaiki kehidupan social
Ketika telah rusak dan retak
Dan ketika segalanya jadi berantakan
Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan hati bersih
Yang tetap berjalan di atas kebenaran
Yang teguh pada keyakinan yang benar
Yang Meng-Esa-kan Tuhan
Yang tulus mengabdi kepada-Nya
Mereka itulah orang-orang asing
Dan berbahagialah duhai para Darwisy Pengembara

فَالزَّمَانُ قَدْ خَلَا عَنْ أمْثَالِ هَؤُلاَءِ الْفُضَلاَءِ. وصَارَ الْخلْقُ كُلُّهُمْ – الا ما شآء الله – مَغْمُورِيْنَ بِالْجَهَالَةِ/الْجُهَّالِ. فإِنْ كُنْتَ مِنَ الطَّالِبِينَ الْمُجِدِّينَ وَأَهْلِ الْعَقْلِ الْمُهْتَدِينَ فَعَلَيْكَ بِاتِّبَاعِ أَثَرِهِمْ وَالْفَحْصِ عَنْ حَقِيقَةِ خَبَرِهِمْ. فَمِثْلُهُمْ بَيْنَ عَيْنَيْكَ.

“Zaman, telah sepi dari kehadiran para bijakbestari, tokoh besar kemanusiaan. Umat manusia berjalan tanpa lilin, tanpa cahaya dan diliputi ketidakmengertian/orang-orang yang tak mengerti. Bila engkau seorang pencari jalan Tuhan dan pemikir yang terbimbing seyogyanya menapaki jalan hidup mereka dan mencari-cari dengan serius kabar. Yang seperti mereka itu ada di diantara kedua matamu”.

Hari ini bumi Nusantara membutuhkan seribu Gus Dur. Yakni orang-orang yang mengabdi kepada dunia kemanusiaan dengan tulus, jujur, asketik dan rela menanggung luka. Yang kepala dan dada mereka terbentang lebar bagi segala pengetahuan dan kebijaksanaan. Yang menghimpun di dalam dirinya kepekaan nurani dan keberanian seorang ksatria. Yang membagi cahaya ilmu, keadilan dan cinta. Yang memberikan kebaikan karena kebaikan itu sendiri, bukan karena selain itu. Para bijakbestari berpesan :

فَعَلَيْكَ اَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ لِاَنَّهُ خَيْرٌ, لَا تُرِيدُ بِفِعْلِكَ عِوَضاً وَلَا يَحْمِلُكَ عَلَى فِعْلِهِ خَوْفٌ فَمَتَى فَعَلْتَ لِطَلَبِ الْمُكَافَأَةِ لمَ يَكُنْ عَمَلُكَ خَيراً.

“Biasakan dirimu melakukan sesuatu yang baik semata-mata karena ia baik, bukan karena berhasrat imbalan dan tidak pula karena rasa takut. Manakala engkau melakukannya karena berhasrat imbalan, maka pekerjaanmu itu bukankan kebaikan”.

Kita membutuhkan biji-biji unggul dan bersih,sekarang dan segera, untuk mewujudkan harapan-harapan kita di masa depan.

Kita harus mendukung dengan apresiasi penuh dan aktif,setiap inisiatif dan gerakan untuk keragaman eksistensi, budaya dan agama.

Demikianlah. Saya akan mengakhiri “Pidato Kebudayaan” ini dengan sebuah puisi :
Aku telah menulis seribu kata untuk dia
Menggubah dua puluh tujuh puisi
Namun, duuh, selalu saja tak cukup
Hingga aku harus berkata seperti Socrates
Semua yang aku tahu
Sesungguhnya aku tidak tahu

خَيَالُكَ فِى عَيْنِى ** وَذِكْرُكَ فِى فَمِى ** وَهَوَاكَ فِى فُؤَادِى ** فَأَنْتَ اَنَا فِى كُلِّ حَالِ

Bayang-bayangmu ada di mataku
Namamu ada dibibirku
Cintamu ada di hatiku
Maka kau adalah aku dalam segala

Cirebon, 30 Juli 2015

*) Disampaikan dalam Acara “Gus Dur, Wajah Semua Kerinduan” Masjid Ulul Albab, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, 02 Agustus 2015