nu

Hari ini aku bertamu ke seorang Kiyai untuk Silaturrahim dan minta doa selamat dalam perjalananku menuju Jawa Timur malam ini, untuk menghadiri acara nikah saudara dan menengok anak di pesantren. Di rumah itu aku melihat banyak tamu. Mungkin untuk keperluan yang sama (silaturrahim) sambil berharap dapat berkah (tambahan kebaikan). Aku disambut tuan rumah dengan hangat. Di tengah obrolan ringan dan acap diselingi canda ria dan humor a la Kiyai, seorang tamu bertanya pendapatku tentang NU dan isu Isnus yang menghebohkan itu?.

Aku menjawab singkat saja. Begini:

NU itu kumpulan orang-orang (jama’ah) dan organisasi (Jam’iyyah) yang kreatif, inovatif, terbuka dan dinamis, serta bersahaja. Pandangan keagamaannya luwes, karena biasa mengaji kitab fiqh plural. Jika kiyai ditanya hukum suatu masalah selalu ada lebih dari satu pendapat. “Fihi Aqwal” (pada masalah ini ada beberapa pendapat)”, atau “fihi Qaulani”, (ada dua pendapat), atau “fihi Tsalatsah Awjuh”, (ada tiga pendapat) dan istilah lain yang sejenis. Oleh karena itu ia, NU, hidup terus dan bersinar. Ia dianut oleh lebih dari separoh jumlah penduduk negara ini. Ia dikagumi banyak negara dan dipuji Al-Syeikh Al-Akbar Universitas Al-Azhar. Ia memiliki puluhan cabang di Luar Negeri, dst.

Ini berlawanan dengan mereka yang mengharamkan dan mensesatkan kreatifitas dan inovasi, yang bersikap tertutup dan anti liyan. Isu yang terus dikembangkan mereka berpuluh tahun berputar-putar hanya “soal-soal” itu. Tak ada yang lain. Jawaban untuk satu masalah hanya satu. “Ini pendapat yang benar. Yang lain salah”. Mereka menolak aforisme dan metafora. Cara dan sikap ini telah dan akan menciptakan dunia yang stagnan dan tertinggal dalam gelap serta ketegangan-ketegangan sosial.

Saat aku bicara suasana ruangan hening. Mereka seperti mendengarkan dengan seksama. Dan begitu aku usai, mereka tersenyum dan mengangguk-angguk. Aku tak tahu apakah mereka, para tamu ini, setuju dengan pandanganku itu.

Mohon maaf jika ada yang setuju.

12.07.18
Di atas Bus Harapan Jaya.