Aku merindukan Konya musim semi dan bunga warna warni di pelataran rumput hijau di perbukitan. Dan aku membuka lagi catatan perjalanan spiritual ke kota Maulana, 25/08/14 :

Di Konya, usai ziarah dan salat di Cami (masjid) Syams Tabrizi yang mungil dan sepi, aku didampingi dua teman, berjalan kaki menuju satu tempat. Di tepi sebuah jalan ramai, aku berhenti dan tertegun pada sebuah prasasti. Aku segera membacanya: “Di sinilah deburan “dua samudera” bertemu dan menumpahkan rindu. 30-Nopember 1244. Pertemuan dua samudera (Bahrain) adalah pertemuan antara Syamsi Tabrizi (sang matahari) dan Jalal al-Din Rumi (sang purnama). Bagai dlm Al-Qur’an : “Maraja al-Bahrain Yaltaqiyan. Bainahuma Barzakh La Yabghiyan”. Tempat Pertemuan Nabi Khidr dan Nabi Musa, A.s.

Sebelumnya aku telah membaca kata-kata Syams Tabrizi, sang Darwisy misterius dari Tabriz, Persia. Ia mengatakan:

“Aku adalah air yang terus berputar2 dalam diriku sendiri dan kini telah menjadi diam. Sebentar lagi ia akan menebarkan bau tak sedap.

Lalu aku berkelana dan berhasrat bertemu Rumi. Saat berjumpa dengannya di Konya, airku mulai mengalir dan terus mengalir. Ia berangsur menjadi jernih, bening, sedap sekaligus melenyapkan dahagaku.” (Syamsi Tabrizi).

Rumi:

Engkaulah langitku dan aku buminya
Yang kebingungan
Apa yang membuat airmu mengalir dari hatiku
Akulah tanah berbibir kering
Bawakan air
Yang akan menumbuhkan mawar di tanah ini

Di taman ada beratus-ratus kekasih nan menawan
Bunga mawar dan tulip menari berputar-putar.

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0