Di pelataran yang membentang maha luas, bernama ‘Arafah’, para jemaah haji laki- kaki dan perempuan dari berbagai pelosok dunia dengan beratus bahasa, suku, beraneka warna kulit, beragam tradisi, berbagai aliran keagamaan Islam, berbeda kebangsaan, jabatan, pangkat, strata social, kaya-miskin dan lain-lain, hadir dalam posisi yang sama sebagai hamba Tuhan. Di bawah terik matahari mereka bersama-sama menghadap dan memenuhi panggilan Allah, Sang Penguasa alam semesta Satu-satunya. Kedudukan mereka di hadapan-Nya adalah sama, setara. Simbol-simbol primordial yang dibangga-banggakan dan yang sering menjadi alasan kesombongan dan keangkuhan diri di situ hilang lenyap, tak lagi berarti. Tuhan sudah mengatakan bahwa tak ada yang lebih ungggul dan terhormat atas yang lain di hadapan Tuhan. Orang yang paling dimuliakan dan dihargai Allah adalah orang yang paling taqwa, orang yang paling tulus mengesakan Allah dan paling banyak amal baiknya, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Al-Quran menyebutkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Nabi mengatakan:

(إنَّ الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم))

“Tuhan tidak menilai kamu dari tubuhmu dan tidak pula wajahmu, melainkan hatimu dan perilakumu”.

أيها الناس ألا إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على أعجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا لأحمر على أسود، ولا أسود على أحمر إلا بالتقوى

“Hai manusia. Ingat Tuhanmu hanya Satu. Asal usul mu Satu. Ingatlah tak ada keunggulan bangsa Arab atas bangsa non Arab. Bangsa berkulit merah atas dan bangsa berkulit hitam. Keunggulan hanya karena taqwa semata”.

Arafah juga merupakan gambaran miniatur di dunia bagaimana kelak di hari kiamat semua manusia akan dikumpulkan dan menunggu keputusan Allah akan nasib mereka, apakah akan dimasukkan ke dalam surga atau ke neraka. Semua manusia di padang Mahshyar (tempat manusia dikumpulkan) kelak, dalam keadaan tanpa membawa apa-apa dan hanya akan membawa iman dan amalnya masing-masing sekaligus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia, di hadapan Allah swt. Di sana, tidak ada lagi harta, kekuasaan, kekerabatan, pertemanan dan keluarga yang bisa menolong atau membantunya. Yang bisa membantu dirinya adalah ketulusan hatinya dalam mempercayai Tuhan dan pengabdian kepada-Nya. Allah berfirman :

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونٌ . اِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِين. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ.

“Hari di mana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat.” (Q.S.al-Syu’ara,[26]:88-89).

(Disadur dari buku “Merayakan Hari-hari Besar bersama Nabi”).
Crb, 31.08.17

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
BAGIKAN
Berita sebelumyaArafah
Berita berikutnyaJamarat: Membuang Keangkuhan
Husein Muhammad
Pendiri/Ketua Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, Cirebon