ilustrasi

Kita sering tidak menyadari atau lupa atau pura-pura lupa bahwa bangsa kita telah lama menjalin hubungan kerjasama dan persahabatan yang baik, saling memberi manfaat dan berkoalisi dengan berbagai bangsa dan komunitas dunia, juga dengan berbagai kelompok masyarakat, berbagai individu-individu dan organisasi-organisasi, yang memiliki beragam latarbelakang dalam banyak aspek; suku, ras, agama, kepercayaan, ideologi, adat istiadat, bahasa, dasar negara, sistem politik dan ekonomi, dan sebagainya.

Dalam waktu yang sama kita sudah sering makan Kentucky Fried Chicken, Humberger, sandwich, sushi, sushimi, tauco, dll, minum di Starbucks Coffe, Coca cola, dll, berkendaraan, berpakaian, menggunakan alat-alat atau sarana-sarana komunikasi dan transportasi, hasil (produk) dan bikinan “orang asing”/al-Ajanib/al-A’ajim/the others, orang/bangsa kafir, atheis dll. Kita juga tiap hari bertransaksi ekonomi melalui berbagai bank milik para pemilik modal raksasa dari Amerika, Eropa, Cina, Rusia, Jepang, India, dan lain-lain.

Dalam sejarah peradaban Islam kerjasama saling memberi manfaat bagi berbagai kepentingan itu telah berlangsung berpuluh abad dan berjalan lancar.

Cak Nur (Nurcholis Madjid) dalam “Islam Agama Peradaban”, hal. 60 menulis:

“Bernard Lewis, seorang orientalis terkemuka yang beragama Yahudi, mengakui dengan terus terang :

“Pada masa-masa permulaan, banyak pergaulan sosial yang lancar terdapat di antara kaum muslimin, Kristen dan Yahudi. Sementara menganut agama masing-masing, mereka membentuk masyarakat yang satu di mana perkawanan pribadi, kerjasama bisnis hubungan guru-murid dalam ilmu pengetahuan dan bentuk-bentuk aktivitas bersama lainnya berjalan normal dan sungguh umum di mana-mana. Kerjasama budaya ini dibuktikan dalam banyak cara”.

Maka adalah aneh sekali jika tiba-tiba kita mengharamkan kerjasama dan berkoalisi dengan mereka yang berbeda-beda itu, terutama agama, atas dasar ayat-ayat suci.

Kerjasama dan saling membantu atau memberi manfaat dengan siapa pun sangat dianjurkan Islam. Yang dilarang adalah kerjasama untuk kejahatan dan hal-hal berdosa, dengan siapapun.

وتعاونوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah”.

Cara pandang dan sikap menutup diri atau menolak pikiran yang baik dan bermanfaat dari “orang lain” hanya karena dia “orang lain”, niscaya akan menciptakan keadaan diri yang semakin terpuruk, miskin dan bodoh.

HM
Crb, 14.09.17

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
BAGIKAN
Berita sebelumyaIhsan
Berita berikutnyaPendidikan Karakter
Husein Muhammad

Pendiri/Ketua Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, Cirebon