Ketat terhadap Diri, Luas terhadap yang Lain

0
705

Judul di atas dikutip (mungkin tidak persis) dari kata bijak Syeikh Ahmad Mustofa Bisri, Gus Mus, Kiyai yang kharismatik itu.

Masih tentang Imam Abu Hanifah al-Nu’man. Sebagaimana sudah disebut, Imam besar ini dikenal sebagai pemikir hukum Islam dengan kecenderungan rasional. Ini boleh jadi karena beliau hidup di kota besar, Bagdad, ibu kota Irak, pusat kuasaan dinasti Abbasiah, sekaligus punya pengalaman cukup lama sebagi pedagang kain di kota itu. Beliau juga seorang teolog. Bukunya “Al-Fiqh al-Akbar” bicara soal Kalam/teologi.

Cara berpikir rasional tersebut seringkali mengganggu mereka yang berpikir dengan kecenderungan tekstual ketat dan formalistik. Kelompok ini dalam pengalaman banyak sejarah sosial di manapun, dikenal cepat marah dan mudah menuduh orang rasionalis, sebagai bid’ah, sesat, kafir dan sejenisnya.

Ada sebuah kisah menarik tentang beliau, terkait soal ini. Suatu saat ada orang yang menuduh dengan memanggilnya: “Hai si Bid’ah, hai si kafir”. Abu Hanifah hanya mengatakan:

غفر الله لك، الله يعلم مني خلاف ذلك، وإني ما عدلت به مذ عرفته، ولا أرجو إلا عفوه، ولا أخاف إلا عقابه»، ثم بكى عند ذكر العقاب،

“Semoga Allah mengampunimu. Hanya Allah yang mengetahui bahwa aku tidak seperti itu. Aku tidak pernah berpaling sejak aku mengenal-Nya, aku tidak berharap kecuali ampunan-Nya, dan aku tidak takut kecuali hukuman (siksaan)-Nya”. Saat menyebut kata ”siksaan Allah”, beliau menangis tersedu-sedu.

Ketat tehadap Diri

Meski seorang rasionalis, Imam Abu Hanifah sesungguhnya seorang yang sangat rendah hati, sangat ketat terhadap dirinya dan sangat sensitif terhadap orang lain. Ia sangat hati-hati memilih kalimat. Ia pernah mengatakan :

اللهم من ضاق بنا صدره، فإن قلوبنا قد اتسعت له

“Ya Allah!. Jika ada orang, siapapun yang merasa tersinggung oleh kata-kataku, maka hatiku sangat terbuka lebar untuk meminta maaf”.

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0