Ahmad Syauqi, raja penyair Arab dari Mesir, menggubah puisi yg memesona, untuk menghormati kelahiran Nabi sang kekasih Tuhan itu. Puisi-puisi ini dinyanyikan dengan amat indah dan penuh cinta oleh Penyanyi Legendaris bersuara emas: Ummi Kultsum :

وُلِدَ الْهُدَى فَالْكَائِنَاتُ ضِيَآءُ ، وَفَمُ الزَّمَانِ تَبَسُّمٌ وَسَنآءُ
الرُّوحُ وَالْمَلَأُ الْمَلَائِكَ حَوْلَهُ ، لِلدِّينِ وَالدُّنْيَا بِهِ بُشْرَاءُ
وَالْعَرْشُ يَزْهُو وَالْحَظِيرةُتَزْدَهِي وَالْمُنْتَهَى وَالسّدْرَةُ الْعَصْمآءُ

Telah lahir sang pembawa obor
Alam Raya pun berpendar cahaya
Zaman tak henti-hentinya menebar senyum
Dan puja-puji dan kekaguman kepadanya

Jibril dan para Malaikat mengelilinginya
Dunia hari ini dan masa depan kemanusiaan bersuka-cita
Singgasana Kerajaan Tuhan (‘Arasy) berdiri begitu megah
Puncak alam semesta (Sidrah Al-Muntaha)
Memancarkan cahaya bening.

Nama Muhammad (SAW)

Begitu Aminah melahirkan bayinya dengan selamat, ia minta orang lain menyampaikan kabar itu kepada kakeknya; Abd al-Muthallib. Sang kakek segera datang dengan wajah berbinar-binar. Ia mengambil bayi itu lalu memberinya nama Muhammad, sebuah nama yang tidak banyak dipakai masyarakat Arabia saat itu. Ada yang mengatakan bahkan belum ada nama itu, sebelum putra Abdullah itu. Ketika ditanya mengapa nama itu yang dipilih, dan bukan nama nenek-moyangnya, sebagaimana kebiasaan masyarakat Arabia?. Abd al-Muthallib, menjawab dengan cepat: “Aku ingin dia, anak ini, kelak akan menjadi orang yang terpuji bagi makhluk Tuhan di langit dan di bumi”. Sang kakek segera membawanya menuju Kakbah lalu masuk ke dalamnya. Di situ ia berdiri menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran cucunya yang tampan itu. Sesudah itu ia kembali menyerahkan kepada ibunya.

Baca: Keluhuran Budi Nabi Al-Musthafa: Muhammad SAW

Ibu Susu Nabi

Beberapa hari sang ibu menyusuinya dengan penuh kasih dan cinta. Tetapi kemudian menyerahkan bayi itu kepada Tsuwaibah, sahaya perempuan pamannya; Abu Lahab, untuk menggantikan menyusuinya. Tak ada yang aneh mengenai cara ini. Orang-orang terhormat dalam tradisi Arabia saat itu acap melakukan cara itu; menyusukan bayinya kepada perempuan lain yang subur, baik dengan memberikan imbalan maupun suka rela. Anak susuan itu kelak akan menjadi “ibu susuan” dan berstatus “mahram” (keluarga sedarah).

Tsuwaibah tak lama menyusuinya. Ia digantikan oleh Halimah al-Sa’diyyah, seorang perempuan miskin yang berhati lembut. Nama lengkapnya Halimah binti Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah.

Ia menerimanya dengan senang hati. Halimah amat bahagia. Dengan menyusui bayi Muhammad itu hidupnya berangsur lebih baik dan terus membaik. Ternak kambingnya yang semula kurus tiba-tiba menjadi gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah-tambah saja. Bayi mungil yang tampak tampan itu telah memberinya berkah berlimpah ruah kepadanya. Halimah mengasuhnya selama dua tahun. Ia kemudian mengembalikannya kepada ibunya, meskipun ia masih menginginkannya, karena berkah yang melimpah pada anak itu.

Menjadi Yatim-Piatu

Siti Aminah mengasuhnya dengan penuh kasih sampai usia Muhammad (saw) kira-kira 6 tahun. Anak dalam usia ini tentu sangat lucu, menyenangkan sekaligus menggemaskan. Terbersit dalam pikiran sang ibu keinginan untuk berziarah ke pusara ayah sang anak, dan paman-pamannya yang wafat di Madinah. Boleh jadi ia ingin menunjukkan kepada Abd Allah, suaminya, akan buah hati mereka berdua itu, meski tentu saja tidak mungkin, karena ayah anak itu telah lama pulang. Andaikata suaminya masih ada, ia mungkin akan mengatakan kepadanya dengan bangga : “Sayangku, ini buah hati dan hasil cinta kasih kita berdua”. Ketika keinginan dan kerinduan itu begitu kuat, ia pun bertekad pergi ke Madinah dengan membawa serta anak yatim yang telah bisa berjalan meski belum cukup gesit dan cepat itu.

Dalam perjalanan pulang dari ziarah itu, Aminah sakit dan tak lama kemudian wafat menyusul suaminya. Ia meninggal di Abwa, sebuah desa antara Makkah dan Madinah.

Muhammad, anak laki-laki tampan itu kini kehilangan orang-orang yang menjadi penyangga hidup dan pelabuhan hatinya. Ia kini jadi yatim-piatu. Hati anak kecil ini tentu amat berduka atas kematian ibunya itu. Ia sangat terpukul atas peristiwa itu. Kita tentu bisa mengerti dan tahu bagaimana perasaan sepi dan duka hatinya pada momen seperti itu. Perpisahan dengan orang-orang tercinta selalu menitipkan sepi dan luka yang mendalam. Muhammad saw kehilangan tumpuan harapan, kasih sayang, kelembutan, dekapan hangat sang ibu. Ia tak akan lagi merasakan tangan lembut yang menyuapinya. Tak ada lagi senda-gurau yang mengembangkan bibir untuk tersenyum-senyum atau tawa lebar yang indah bersama seorang perempuan yang mengandung dan melahirkannya itu. Kita semua dapat membayangkan atau merasakan betapa kebingungan, pilu dan sedihnya anak yang tak punya ibu, tak punya ayah, tak punya kekasih, tak punya dambaan kalbu, tak punya tempat mengadu, dan menumpahkan gelisah ketika hatinya luka atau terganggu. Tetapi Muhammad kecil itu menerima kehilangan orang yang sangat dicintainya dengan sangat sabar dan tabah.

Dalam Penjagaan Allah

Muhammad (SAW) kemudian diasuh dan dalam perlindungan kakeknya, Abd al-Muthallib. Tetapi ini hanya berlangsung dua tahun saja. Karena sang kakek kemudian juga wafat. Sang paman, kakak ayahnya, Abu Thalib, menggantikannya, merawat, menjaga dan melindungi Muhammad saw.

Tuhan tak membiarkan calon pemimpin dunia itu terus bersedih hati dan kehilangan harapan masa depan. Dia membimbing tangannya menapaki dan menyusuri jalan cahaya. Tuhan akan selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Melalui pengalaman hidup yang memilukan itu Dia sedang memberinya pelajaran mulia, agung dan berharga bagi masa depan kemanusiaan. Pelajaran itu kira-kira berbunyi: “Jika kau menyayangi si fakir dan orang yang menderita, kau harus menjadi hatinya”. Kelak anak yang mulia (Muhammad saw) itu memang sangat peka dan amat sayang terhadap orang-orang yang miskin, yatim-piatu, terlantar dan menderita lainnya.

Al-Qur’an merekam keadaan itu dalam salah satu ayatnya yang sangat indah:

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
dan demi malam apabila telah sunyi
Tuhanmu tak meninggalkanmu
dan tak pula membencimu
Dan sesungguhnya hari kemudian itu
lebih baik bagimu daripada hari ini

Dan kelak Tuhanmu
pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,
lalu (hati) kamu menjadi puas.
Bukankah Dia mendapatimu
sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungimu?
Dan Dia mendapatimu
kebingungan,
lalu Dia memberimu jalan.
Dan Dia mendapatimu papa,
lalu Dia memberikan kecukupan.
Maka terhadap anak yatim
janganlah kamu berlaku kasar.
Dan terhadap pengemis
janganlah menghardiknya.
Dan terhadap karunia Tuhanmu kabarkanlah

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0