Kemarin, manakala matahari tanggal 9 dzulhijjah telah tenggelam di ufuk barat, dan langit menyisakan warna merah saga, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia itu bergerak serentak bagaikan gelombang lautan manusia yang eksodus, meninggalkan medan luas bumi Arafat yang penuh kenangan. Tempat pemberhentian (wuquf) ini akan berangsur lengang, sepi, dan sepi sekali. 15 abad lampau tempat ini kering kerontang, tanpa tanaman apapun dan tanpa air yang mengalir.

Mereka akan menuju Mina (tujuan) melewati tengah malam di sebuah tempat bernama Masy’aril Haram atau lebih dikenal sebagai Muzdalifah. Sepanjang perjalanan Arafah-Muzdalifah lidah mereka tak henti-hentinya menyebut nama Allah, memuji dan mengangungkan-Nya. Allah Akbar Allah Akbar Allah Akbar walillahilhamd.

Di tempat ini jema’ah haji akan berhenti menunggu rembulan bergerak ke arah barat. Selama waktu menunggu itu di antara mereka sibuk mencari sejumlah batu kerikil, untuk dilemparkan di tempat yang disebut “jamarat”, bila telah sampai di Mina.

Jamarat

Bila hari tanggal 10 mereka telah sampai di Mina, langkah-langkah kaki mereka bergegas diarahkan menuju ke Jamrah Aqabah, sebuah tempat utama melempar batu-batu kerikil tersebut. Para jemaah haji akan melemparkannya minimal 7 buah, sambil mengumandangkan Takbir : Allah Akbar pada setiap batu yang dilempar. Besok hari ritual melempar batu-batu kerikil itu dilakukan di tiga tempat: ula, wustha dan aqabah.

Batu-batu kerikil itu bagai peluru-peluru yang akan dilemparkan ke arah setan-setan esok pagi di Mina. Ini adalah simbol belaka. Setan adalah jiwa yang memberontak terhadap kebenaran dan keadilan, sifat kesombongan yang melekat di dalamnya dan hasrat menyesatkan orang lain. Melempar jumroh adalah simbol membuang sifat-sifat ini yang bersemayam dalam diri manusia.

Angka Tujuh adalah simbol untuk menyebut ‘banyak’. Ia menunjukkan bahwa perjuangan menyingkirkan egoisme, kesombongan dan hasrat-hasrat menyesatkan orang lain itu harus dilakukan terus menerus dan tidak boleh berhenti. Tiga kali (tiga tempat) menyimbolkan bahwa perjuangan ini memang tak mudah, sering kali gagal. Ini karena dalam diri manusia ada kecenderungan sulit melepaskan kebiasaan yang dirasa menyenangkan. Mereka sering ingin mengulanginya lagi dan lagi. Dan perjuangan melawan diri sendiri, amatlah sulit. Manusia lebih mudah menyalahkan orang lain dan menolak disalahkan orang. Allah Akbar Allah Akbar Allah Akbar.

Crb, 01.09.17

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
BAGIKAN
Berita sebelumyaMakna Wuquf di Arafah
Berita berikutnyaIhsan
Husein Muhammad
Pendiri/Ketua Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, Cirebon