Transnasional adalah kosakata yang belakangan ini semakin popular dan diperbincangkan dengan serius, bukan saja di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia yang lain. Secara literal, kata berbahasa Inggris atau Amerika ini, berarti lintas nasional, atau lintas kebangsaan. Istilah ini identik dengan istilah lain yang populer lebih awal ; Globalisasi. Sederhana memang. Tetapi mengapa ia dibicarakan begitu serius, terutama dikalangan masyarakat muslim dan lebih khusus lagi warga Nahdlatul Ulama?.

Ideologi Transnasional bukan semata sebuah istilah tanpa makna yang penting. Ia kini dipahami sebagai sebuah istilah bagi gerakan politik internasional yang berusaha mengubah tatanan dunia berdasarkan ideologi keagamaan fundamentalistik, radikal dan sangat puritan. Istilah-istilah yang ini dalam pengertian umum menunjuk pada cara pandang dan ideologi yang berusaha mendirikan sebuah tatanan dunia baru yang didasarkan pada kekuasaan atas nama Tuhan (hakimiyyah Allah) dan bersikap eksklusif. Mereka menyebutnya Nizam Islami (Sistem Islam). Di dalamnya aturan-aturan keagamaan (syari’ah)- tentu saja menurut tafsir mereka- dan tunggal wajib diberlakukan bagi semua wilayah kekuasaannya yang mendunia itu. Mereka menolak kekuasaan manusia. Menurut mereka aturan-aturan manusia telah menyingkirkan kekuasaan Tuhan. Ideologi ini dengan begitu menentang negara bangsa (nation state). Untuk mewujudkan impian tersebut ideologi tersebut kemudian mengembangkan berbagai cara, termasuk memaksakan kehendak melalui tindakan kekerasan, represi, teror, seraya mengingkari, menafikan atau membidatkan keyakinan orang lain (the others), dan mengkafirkan selain mereka, baik dari kalangan umat agama lain maupun dalam internal Islam yang tidak sejalan dengan ideologi mereka. Gerakan politik transnasional tak ragu-ragu melakukan klaim kebenaran sepihak atas nama agama atau Tuhan.

Hari ini dunia muslim terkesima dengan laju gerakan ini. Yang terakhir adalah ISIS. (Al-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa al-Syam). Para penganut gerakan fundamentalis-radikal-puritan itu selalu mengumandangkan jargon-jargon general yang menghipnotis banyak orang awam, mengibarkan simbol-simbol agama dan meneriakkan kalimat-kalimat suci ketuhanan. Pada saat yang sama mereka mencacimaki dan menstigma orang/kelompok lain yang berseberangan dengan pemikiran dan ideologi mereka. Yang berseberangan dengan mereka dianggap ”yang lain” (al-ghair atau minhum). Paling tidak ada tiga kata yang selalu mereka stigmakan terhadap lawan-lawan idologinya: Kafir, Musyrik dan Bid’ah. Dalam konteks masyarakat yang tengah dihimpit kemiskinan, terbelakang dan tak berdaya, jargon-jargon besar dan simbol-simbol yang suci tentu sangat menarik dan mempesona. Manakala gerakan mereka memasuki mushalla, masjid atau surau di desa-desa dan kampung-kampung miskin dan tak berdaya secara sosial-ekonomi, maka para jama’ah akan terbuai dengan klaim-klaim yang menjanjikan sorga itu. “Ya benar, benar !. Inilah yang ditunggu-tunggu. Ideologi-ideologi besar dunia ; kapitalisme-liberalisme-sekularisme dirasakan mereka sebagai telah menciptakan kesengsaraan mayoritas besar masyarakat dunia dan menghancurkan moral”. ”Demokrasi telah menciptakan kekacauan sosial”. ”Hak-hak Asasi Manusia, melawan Hak-Hak Tuhan”. Demokrasi, Hak-Hak Asasi Manusia, dan Gender, adalah produk-produk Kafir. Kita harus kembali pada Ajaran Tuhan, ajaran Islam yang Kaffah dan mendirikan Khilafah Islamiyah. Sistem Khilafah adalah jalan satu-satunya menyelesaikan masalah. Begitulah kira-kira teriakan-teriakan para jama’ah.

Jargon-jargon besar dan general tentu tidak ada yang salah. Siapa yang akan menyalahkan atau menolak jika dikatakan: “Hukum-hukum Tuhan adalah Maha Benar Maha Adil dan Maha Tinggi. Siapa yang akan menolak bahwa Hukum-hukum Tuhan pasti membawa kemaslahatan atau kesejahteraan”?. Siapa yang berani menggugat jika diserukan untuk mentaati hukum-hukum Tuhan?. Siapa yang tidak membenci kekafiran?. Siapakah yang menolak Keadilan Tuhan?. Seluruh pemeluk agama di dunia, tanpa ragu-ragu akan membenarkan ini semuanya.

Akan tetapi tiba pada giliran bagaimana mereka mendefinisikan terma-terma keagamaan, seperti siapa yang disebut muslim, kafir, syari’ah, dar (negara) al-Islam, Dar al-Kufr dan seterusnya, maka jawabannya menjadi tidak mudah dan sesederhana apa yang dipikirkan orang. Sejak masa klasik Islam, terma-terma ini diperdebatkan para ulama dan cendikiawan. Perdebaan ini juga tidak jarang menimbulkan konflik sosial-politik yang panjang dan menciptakan berpuluh-puluh sekte-sekte baru yang beragam. Demikian juga pada tingkat mengoperasionalisasikan gagasan dan jargon-jargon besar tersebut. Bagaimana, misalnya, prosedur pemilihan kepala negara? Siapa yang mengangkat khalifah?. Apakah rakyat memiliki hak memilih dan untuk mengontrol kekuasaan presiden atau khalifah. Jika ya, lalu bagaimana caranya?. Siapakah yang membuat aturan-aturan hukum? Bukankah tidak ada lagi Nabi?. Akankah ada orang yang diposisikan sebagai Nabi sebagai otoritas tunggal yang memutuskan segalanya secara final?.

Hari ini telah berpuluh-puluh negara dengan penduduk mayoritas muslim telah mengadopsi demokrasi sebagai sistem kenegaraannya. Pusat Khilafah Islamiyah terakhir di Turki telah berakhir, 1923. Dunia Arab-Islam memilih demokrasi dan republic sebagai sistem pemerintahannya. Sistem kerajaan yang otokratik tinggal beberapa saja yang masih dipertahankan, meski sesungguhnya hanya tinggal namanya saja. Mereka, para fundamentalis itu, sesungguhnya sedang memimpikan masa lalu dengan segenap sistemnya hadir kembali di tengah-tengah kehidupan hari ini di sini, meski masa lalu tak akan kembali, karena dunia terus bergerak ke depan. Mereka mengejar mimpi di siang bolong.

Bercermin pada Sejarah Kelam

Jika kaum muslimin membaca sejarah, mereka akan mengingat dengan pasti bahwa cara-cara seperti di atas pernah terjadi pada masa lampau, abad ke 7 di Arabia. Usman bin Affan, pangganti kepemimpinan politik Nabi ke tiga, terbunuh dalam kerusuhan berdarah. Ali bin Abi Thalib kemudian menggantikannya. Keluarga Usman di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, gubernurnya di Damaskus, menuntut penangkapan pembunuh Usman. Ketika pemerintahan Ali dianggap tidak segera menangkapnya dan menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut, mereka mengambil sikap oposisi dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Konflik berdarah menjadi tak terhindarkan. Manakala pihak oposisi hampir pasti dikalahkan, dengan cerdas pihak yang terdesak itu segera mengambil mushaf al-Qur’an. Pedang yang ada di tangan ditancapkan pada Mushaf tersebut, lalu dikibar-ibarkannya sambil berteriak-teriak, agitatif : “Mari kita kembali kepada kitab suci Al-Qur’an, kembali kepada hukum Tuhan. ”Bainana wa bainakum Kitab Allah.” Kalimat tersebut sengaja digelorakan dengan penuh semangat oleh pihak yang terdesak dan hampir dipastikan kalah. Kaum muslimin terkejut dan dengan serta merta menghentikan perang. Mereka tunduk pada kalimat-kalimat Tuhan tersebut, karena memang benar adanya. Genjatan senjata disepakati untuk kemudian dilakukan Arbitrase untuk menentukan kepemimpinan baru dengan syarat masing-masing pemimpin melepaskan jabatannya. Masing-masing pihak mengajukan juru bicaranya. Ketika juru bicara pihak yang akan menang; Abu Musa al-Asy’ari, telah menyampaikan pidato peletakan jabatan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib : ”Inni Khala’tu Aliyyan”,(aku mencopot kepemimpinan Ali), pihak lawan yang nyaris kalah tersebut serta-merta menyatakan diri sebagai penguasa atas semua kaum muslimin. Juru bicara mereka mengatakan : “Inni Atsbutu Mu’awiyah fi al-Amr kama Atsbutu Saifi” (aku menetapkan Mu’awiyah sebagai pemimpin pemerintahan atas kaum muslimin). Mendengar pernyataan ini, Ali bin Abi Thalib, serta merta berkomentar cerdas atas slogan-slogan kembali kepada Allah yang digembar-gemborkan sebelumnya: “Kalimah Haq urida biha al bathil (Kata-kata itu benar, tetapi mereka menggunakannya untuk tindakan yang salah). Perang dahsyat antar kaum muslimin pada akhirnya menjadi tak lagi terelakkan. Dampak perang itu tak pernah padam sampai hari ini. Para sejarawan menyebutnya sebagai “al-Fitnah al Kubra”. Secara literal ia berarti ”ujian besar”, tetapi acap dimaknai sebagai ”bencana besar”. Ya bencana maha dahsyat bagi dunia Islam. Ini karena sejak saat itu dunia muslim terbelah dan perang sesama saudara yang tak pernah selesai, hingga hari ini.

Sejarah kemudian menceritakan keterbelahan umat Islam dalam sekte-sekte pemikiran keagamaan dan politik. Satu kelompok yang kemudian dikenal sebagai “khawarij”, muncul di tengah-tengah dua pihak yang berseteru itu. Kelompok sempalan itu begitu mudahnya mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan dengan pemikirannya sekaligus pada saat yang sama membenarkan pembunuhan atas mereka. Mereka berargumen bahwa orang-orang yang terlibat dalam ”arbitrase” adalah para pendosa dan pelanggar hukum Tuhan. Teks-teks agama dijadikan senjata untuk membenarkan kepentingannya : ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, mereka kafir, zalim dan durhaka”. Tiga orang sahabat Nabi : Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Ash, menjadi sasaran dan korban pertama mereka. Para pemimpin ini dituduh sebagai telah melanggar hukum-hukum Tuhan. Dua orang sahabat Nabi yang disebut terakhir selamat, sementara Ali bin Abi Thalib berhasil dibunuhnya.

Gerakan “khawarij” kemudian menghilang dari sejarah. Tetapi ideologi, gerakan dan cara-cara yang digunakannya kini muncul dalam bentuk dan nama yang lain. Khalid Abou al Fadl, pemikir Islam kontemporer terkemuka saat ini, mensinyalir bahwa ideologi Islam puritan, militan, ekstrim, radikal atau apapun namanya yang melakukan gerakan dan aksi-aksi kekerasan, pengkafiran, pemurtadan, pemusyrikan kaum muslimin, dan intoleran terhadap orang lain (the others) bisa dilacak genetikanya dari doktrin-doktrin sekte Khawarij tadi. Hari ini gerakan keagamaan Islam yang memiliki karakter ideologi Khawarij adalah Ideologi Wahabi dan kini, teranyar, adalah ISIS. Gerakan ini sering disebut sebagai ”Neo Khawarij”. Di samping mudah mengkafirkan, membid’ahkan, dan mengklaim kebenarannya sendiri itu, ideologi Khawarij juga meyakini bahwa sebuah negara meskipun penduduknya mayoritas muslim, tetapi di dalamnya kemaksiatan dan dosa besar meluas, maka negara tersebut disebut ”Dar al-Harb” (negara zona perang). Ini juga tampaknya menjadi keyakinan kaum Wahabi.

Jika doktrin yang dikembangkan oleh ideologi transnasional adalah seperti ideologi Khawarij tadi, maka memang sangat layak untuk diwaspadai sekaligus diantisipasi. Gerakan politik ideologis-keagamaan seperti itu sungguh mengancam keberagaman dan kebhinekaan masyarakat. Ia juga akan terus menerus memasung kebebasan berpendapat atau berpikir dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dalam konteks politik kebangsaan Indonesia, ideologi transnasional, menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini karena tuntutan ideologi tersebut sangat jelas ; penerapan hukum-hukum agama secara formal atau sekaligus pendirian negara berdasarkan suatu keyakinan keagamaan tertentu di tengah-tengah warganegaranya yang sangat plural itu.

Dalam konteks kultural, banyak kiyai NU, cemas atas masa depan umatnya jika ideologi transnasional tersebut berkembang dan merasuki jantung-jantung umatnya. Tradisi dan ritual-ritual keagamaan kaum Nahdhiyyin sebagaimana sudah disebut, akan berantakan dan tercerabut. Padahal tradisi-tradisi semacam Tahlil, peringatan Maulid Nabi, Ziarah Kubur dan sejenisnya telah menjadi “ikon” organisasi para ulama itu selama berabad-abad. Melalui tradisi tersebut, NU telah mampu mengayomi ekspresi-ekspresi kebudayaan dan menciptakan harmoni yang indah antara agama, negara dan budaya lokal. Dengan begitu Ideologi transnasional tersebut akan terus bergerak menghancurkan tradisi dan budaya lokal itu dengan berbagai cara yang mungkin, termasuk tindakan-tindakan represifnya. Belakangan terdengar santer, bahwa gerakan ISIS akan menghancurkan Ka’bah, symbol persatuan umat Islam sedunia itu.

Di sini Nahdlatul Ulama, juga Muhammadiyah dan organisasi-organisasi moderat lainnya, tengah menghadapi tantangan-tantangan serius dari kelompok-kelompok Islam transnasional yang Fundamentalistik-Radikal itu. Saya kira jawaban terhadapnya tidak sekedar berpidato yang menyerukan kaumnya untuk waspada sambil menangkis satu demi satu doktrin kaum fundamentalis-radikal itu dengan merujuk pada kitab-kitab kuningnya, melainkan juga dengan mempersiapkan kader-kader tangguh dana cerdas yang bergerak menyebarkan Islam Rahmatan li al-‘Alamin melalui tindakan-tindakan nyata dan mengkontekstualisasikan ajaran-ajaran Aswajanya dalam berbagai dimensi kehidupan : Sosial, Ekonomi, Politik dan Kebudayaan.

Fatwa Gus Dur : Mereka Tak Paham

Dalam sebuah tulisan hasil wawancara dengan Gus Dur berjudul “Susah menghadapi orang yang salah paham”, Gus Dur menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh orang terhadap yang lain, salah satunya adalah karena faktor ketidakmengertian orang tersebut. “Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan”. Demikian kata Gus Dur dalam wawancara tersebut.
Gus Dur dalam banyak kesempatan selalu mengutip ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara tentang keadilan. Keadilan adalah pilar dan prinsip agama. Ia harus diwujudkan terhadap siapa saja, diri sendiri, keluarga bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan, berbeda kultur, berbeda jenis kelamin, berbeda warna kulit, berbeda kebangsaan dan seterusnya. Al-Qur’an menyebut dengan jelas, bahwa sepanjang orang-orang non muslim tidak melakukan pengusiran atau penyerangan, mereka harus diperlakukan secara adil dan dipergauli dengan baik. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Islam tidak pernah memulai perang. Jihad dengan makna perang bersenjata diizinkan ketika kita sudah diserang.

Dunia Islam sesungguhnya juga sudah mendeklarasikan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Beberapa butir deklarasi yang ditandatangai di Kairo, 1990 itu antara lain :

“Manusia adalah satu keluarga, sebagai hamba Allah dan berasal dari Adam. Semua orang adalah sama dipandang dari martabat dasar manusia dan kewajiban dasar mereka tanpa diskriminasi ras, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, kepercayaan agama, ideologi politik, status sosial atau pertimbangan-pertimbangan lain. Keyakinan yang benar menjamin berkembangnya penghormatan terhadap martabat manusia ini.”.(ps. 1 ayat 1).

البشر جميعا أسرة واحدة جمعت بينهم العبودية لله والنبوة لآدم وجميع الناس متساوون في أصل الكرامة الإنسانية وفي أصل التكليف والمسؤولية دون تمييز بينهم بسبب العرق أو اللون أو اللغة أو الجنس أو المعتقد الديني أو الانتماء السياسي أو الوضع الاجتماعي أو غير ذلك من الاعتبارات. وأن العقيدة الصحيحة هي الضمان لنمو هذه الكرامة علي طريق تكامل الانسان.

“Semua makhluk adalah keluarga Allah dan yang sangat dicintainya adalah yang berguna bagi keluarganya. Tidak ada kelebihan seseorang atas yang lainnya kecuali atas dasar takwa dan amal baiknya”.(ps. 1 ayat 2).

أن الخلق كلهم عيال الله وأن أحبهم إليه أنفعهم لعياله وأنه لا فضل لأحد منهم علي الآخر إلا بالتقوى والعمل الصالح.

Kelompok pengusung ideology transnasional yang fundamentalist-radikal, terutama ISIS, mengobarkan semangat Jihad dan mengajak “ikhwah fillah” (saudara-saudara seagama Islam) untuk bergabung bersama mereka. Mereka mengutip ayat al-Qur’an :

“Katakanlah: “jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(Q.S. al-Taubah, [9]:24).

Semua kaum muslimin memahami dan mengerti ayat di atas sebagai benar adanya. Akan tetapi pertanyaan kita adalah : bagaimana cara kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya?. Dengan cara apa kita berjihad di jalan-Nya?. Al-Qur’an tidak menggunakan kata Jihad untuk menunjuk pada makna perang militeristik. Makna perang disebut dengan kata : Qital dan Harb. Dan Nabi sendiri tidak pernah berinisiatif untuk memulai perang : Innahu La Yabdau bi al-Qital. Perang dalam Islam dibenarkan hanya dalam rangka mempertahankan diri dari serangan lawan. Saya kira, makna itu adalah menegakkan gagasan-gagasan kemanusiaan, gagasan untuk penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia, mewujudkan kasih sayang semesta (Rahmatan li al-‘Alamin) dan kesejahteraan (kemaslahatan) untuk semua. Tidak yang lain.

Cirebon, 04 agustus 2014

How you feel for this post?
Share your vote!
2
0
0
0
0
0
0
0
0