Ibadah Personal Meniscayakan Tanggungjawab Sosial-Kemanusiaan

2
1052

Teks-teks agama yang berbicara tentang ibadah mahdhah (individual) sejatinya selalu mengandung fungsi dan tugas ganda. Pada satu sisi ia merupakan cara manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan hati dan membebaskan diri dari ketergantungannya kepada selain Dia, tetapi pada saat yang sama ia juga menginsipirasi, menggerakkan dan menuntut pelakunya untuk melakukan tugas-tugas dan tanggungjawab social dan kemanusiaan.

Shalat, misalnya, dinyatakan oleh Al-Qur’an untuk mengingat Tuhan : “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Ayat lain menyatakan : “Sesunguhnya shalat mencegah manusia dari berbuat keburukan dan kemunkaran”. Pernyataan paling jelas diungkapkan dalam surah al Ma’un : “Apakah kamu mengetahui orang yang mendustakan agama?. Itulah orang yang tidak perduli terhadap anak yatim, tidak memberikan makan kepada orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yakni orang yang riya dan orang yang tidak mau memberikan sesuatu yang berguna (bagi orang lain)”. Riya bermakna keinginan untuk dipuji orang lain atau bekerja karena pamrih, pamer

Puasa, secara literal berarti menahan atau mengendalikan diri. Dalam terminology umum ia adalah proses dan cara agar manusia bisa mengendalikan hawa nafsu serakah, yang selalu menuntut dan mendesakkan kehidupan hedonistic (inna al nafsa laammarah bi al suu). Pengendalian diri dari perilaku destruktif yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain disebut Al Qur-an sebagai taqwa. (Q.S. Al Baqarah 183). Pada tingkatan lebih tinggi puasa merupakan cara manusia menghadirkan Tuhan dalam dirinya. Penghadiran Tuhan dalam jiwa manusia diharapkan akan mengontrol sekaligus menuntun manusia untuk selalu berkata dan bertindak baik, indah (ihsan) kepada seluruh ciptaan Tuhan. Tuhan mengatakan :”Jika kalian ingin kasih-sayang-Ku, maka sayangilah ciptaan-Ku”.(Hadits Qudsi).

Haji di samping dimaksudkan sebagai perjalanan spiritual menuju rumah Tuhan di Makkah, mendekatkan diri kepada-Nya, ia juga melambangkan kehendak untuk mewujudkan kesatuan, kesetaraan, persaudaraan umat manusia sedunia.

Dengan begitu menjadi jelas bahwa kesalehan individual yang diajarkan Islam selalu menuntut lahirnya efek-efek kesalehan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Manakala ritual-ritual personal tersebut (ibadah individual) tidak melahirkan efek kesalehan ini, bahkan justeru memunculkan tindakan dan sikap-sikap hidup negatif, reduktif atau bahkan destruktif dan anarkis terhadap kepentingan sosial kemanusiaan, maka, untuk tidak mengatakan sebagai keberagamaan yang sia-sia, bisa dikatakan sebagai sebuah deficit (kebangkrutan) agama.

Kuker, Kaltim, 2 april 16.

How you feel for this post?
Share your vote!
1
0
0
0
0
0
0
0
0
BAGIKAN
Berita sebelumyaIa Tetap Eksis
Berita berikutnyaKrisis Internal?
Husein Muhammad
Pendiri/Ketua Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, Cirebon