Gus Dur adalah sang darwisy pengembara. Sebagaimana umumnya Darwisy pengembara, ia sering menjadi subyek yang aneh, asing, dicurigai atau bahkan dimusuhi oleh mereka yang tak mengerti, tak paham, dan tak tercerahkan. Manakala sang Darwisy pengembara memasuki suatu perkampungan atau perkotaan, ia akan dianggap si “nyleneh”, “nyentrik” atau bahkan “bahul”, “bahlul” atau “majnun”, oleh orang-orang di kampung dan di kota itu, bukan hanya karena celotehnya yang tak jelas dan tak mudah dimengerti tetapi juga, dan ini yang terutama, karena pikiran-pikiran dan sikap-sikapnya yang tak lazim. Terhadap semua itu, Gus Dur tetap saja diam. Atau ia akan mengatakan : biarkan saja, atau mengucapkan kata-kata khasnya “gitu aja repot”. Ia mengerti bahwa mengubah tradisi dan kebiasaan memang tak mudah dan itu memerlukan kesantunan dan kesabaran prima.

Baca: Gus Dur Sastrawan Besar

Para darwisy pengembara di mana-mana adalah para pencinta manusia. Bagi mereka tubuh-tubuh manusia adalah suci dan harus dimuliakan, karena di dalamnya berdiam “sifat-sifat keilahian”. Manusia dalam pandangan para darwisy adalah tempat Tuhan merindukan Diri-Nya Sendiri. Manusia adalah pancaran Cahaya dan Cinta-Nya. Di dalam tubuh kasarnya tersimpan magma spiritualitas Ilahiyah yang sanggup menggenggam dunia atau melepaskannya. Dengan demikian kehormatan manusia harus dijaga.

Sa’di Syirazi, sufi-penyair besar dari Persia, meniupkan terompet kemanusiaan itu dalam puisinya yang indah :

أَىْ / بَنُوا آدَمَ جِسْمٌ وَاحِدٌ اِلَى عُنْصُرٍ واحِدٍ عَائِدُ
إِذَا مَسَّ عُضْواً أَلِيمُ السَّقَامِ فسَائِرُ أَعْضَآءِهِ لاَ تَنَامُ
إِذَا أَنْتَ لِلنَّاسِ لَمْ تَأَلَّمْ فَكَيْفَ تَسَمَّيْتَ بِالْآدَمِى

O, Ya
Anak-anak Adam adalah satu eksistensi
Kepada Yang Satu ia datang dan kembali
Bila lara menyentuh satu bagian tubuh
Tubuh-tubuh yang lain bergetar-getar dan terjaga-jaga
Bila kau tak merasa lara
Bagaimana mungkin menyebut diri anak Adam

Di bawah pandangan ruh kemanusiaan (al-Ruh al-Insaniyyah) itu Sa’di menatap para bijakbestari (al-Arifin), sambil mengatakan :

أَنَّ الْعَارِفَ اَوْ الصُّوفِى هُوَ الَّذِى يَخْدُمُ النَّاسَ, لاَ الَّذِى يَخْتَار الْعُزْلَةَ وَالْاِعْتِكَافَ. وَاَنَّهُ لَا بُدَّ لَهُ اَنْ يَتَزَوَّدَ بِالْعِلْمِ. وَيَطْلُبُ مِنْ كُلِّ النَّاسِ حَتَّى الْحُكَّامِ اَنْ يَتَخَلَّقُوا بِأَخْلاَقِ الدَّرْوِيشِ.

“Seorang bijakbestari adalah dia yang mengabdi kepada dunia manusia, bukan yang memilih menepi dalam sepi dan berdiam diri di atas sajadah. Untuk pengabdian itu dia harus berbekal ilmu pengetahuan. Dia meminta semua manusia dan para pejabat negara, agar mengenakan etika Darwisy.

Crb, 22/12/16

How you feel for this post?
Share your vote!
2
0
0
0
0
0
1
0
0