ilustrasi

Hari raya ‘Îdul Fitri telah berlalu dengan membawa kenangan yang indah, suasana hati yang mengharu biru dan perasaan yang menggairahkan. Keceriaan ada di mana-mana, dialami laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Orang-orang yang merantau, pulang untuk bertemu dan bersilaturrahim dengan keluarganya, menjalin lagi kemesraan yang pernah dialami dulu kala. Betapa indahnya hari-hari itu.

Mereka menjadi seperti terlahir kembali, seperti sediakala. Kata Nabi : “barangsiapa puasa Ramadhan dg ikhlas, maka dia akan kembali bagai bayi yang baru dilahirkan ibunya”. Ini antara lain makna Id Fitri.

Baca Juga: Ketika Nabi Lebaran

Bagai Pengembara/Turis

Kini kita kembali menelusuri perjalanan hidup seperti hari-hari biasa sebelumnya. Dan kita tidak tahu apakah hari-hari kita ke depan masih akan panjang atau pendek. Semuanya tanpa kepastian. Segalanya ada di Tangan Tuhan. Tetapi hidup menurut Nabi adalah sebuah perjalanan. Manusia digambarkan ka ‘abiri sabîl. Bagai pengembara , pelancong, atau touris.

Imam al-Ghazali mengatakan: “Dunia ini adalah persinggahan atau tempat transit belaka, bukan tempat menetap. Manusia adalah pengelana/pengembara. Persinggahan pertamanya adalah di dalam liang lahat. Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu. Setiap tahun yang dilewatinya bagaikan satu tahapan perjalanan. Setiap bulan yang telah dilewatinya bagaikan istirahat sang musafir di perjalanan. Setiap pekan bagaikan bertemu sebuah desa. Setiap nafas yang berhembus bagaikan langkah-langkah kaki yang terus bergerak mendekati persinggahan terakhir”.

Al-Qur’ân kemudian bertanya:Fa Aina Tadzhabûn? (Hendak kemana kalian akan pergi?). Manusia menjawab: Kita akan pergi menuju ke sebuah titik berhenti yang bernama kematian.

Jalan mana yang ditempuh?

Lalu jalan mana yang akan kalian tempuh. Ada dua jalan saja yang bisa mereka tempuh, jalan menuju kebahagiaan abadi, di sorga yang penuh kenikmatan, atau jalan menuju kesengsaraan yang abadi atau mungkin juga abadi, di neraka yang penuh penderitaan. Manusia bebas memilih. Tuhan telah memberikan mata, telinga, hati dan akal. Tuhan juga menyediakan segala fasilitas bagi hidup dan kehidupan manusia. Mata, telinga, hati dan akal memiliki makna ganda. Mata adalah alat untuk melihat segala sesuatu, tetapi ia juga bisa membaca tanda-tanda alam, ciptaan Allah. Telinga di samping untuk mendengar bunyi dan suara, ia juga menyimpan apa saja yang didengarnya. Akal berfungsi menerima informasi dari indera yang lain lalu mengolahnya dan menyimpulkan. Tuhan berharap agar anugerah-anugerah itu digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

Akan tetapi banyak orang yang lalai akan hal itu. Mereka menggunakannya untuk hal-hal yang merugikan dirinya sendiri, untuk kesenangan diri yang melalaikan atau menyakiti orang lain . Kepada mereka ini Allah menyindir bahwa jika demikian, mereka layaknya binatang:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(Q.S.Al-A’raf, 7:197).

Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa semua manusia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah dan Dia akan membalas sesuai dengan seadil-adilnya. Dan manusia akan menerima konsekuensi atas pilihannya itu.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.

فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”.

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
1
0