Egoisme

0
301

Ada firman Allah dalam Al-Qur’an yang selalu aktual :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa derita dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan derita itu, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) derita yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(Q.s. Yunus 12).

Pernyataan Tuhan ini memberi pengetahuan/pelajaran kepada kita bahwa manakala seseorang mengalami kesusahan, kesulitan, menderita dan tak berdaya, dia baru meminta tolong kepada Allah, sambil menangis-nangis, rajin ibadah dan kembali mengikuti ritual-ritual keagamaaan, termasuk “hijrah”. Tetapi manakala kesusahan itu hilang, kepentingan diri telah terpenuhi, Tuhan dia tinggalkan. Tuhan tak diperlukan lagi. Mungkin juga mendurhakai-Nya. Ini karakter orang-orang yang zalim dan tak bersyukur kepada Tuhan.

Belakangan model begitu digunakan sebagian orang, tetapi dalam bentuk dan cara lain. “Dan bila seseorang atau sekelompok orang sedang menderita atau merasa kepentingannya dirugikan atau kawatir dirugikan atau terancam ia akan meminta orang lain untuk menolongnya atau mengajak mereka melawan orang-orang yang membuatnya menderita atau merugi. Dan bila tak lagi merasa demikian, ia akan diam saja, bahkan mengingkari bahwa dirinya pernah meminta tolong orang lain atau mengajak rame-rame membela dirinya. Untuk menarik hati mereka yang diajak itu dan agar dianggap benar maka disampaikan lah dalil-dalil agama yang mereka interpretasikan sendiri yang sesuai dengan kepentingannya, serta digunakanlah simbol-simbol yang dianggap oleh dirinya dianjurkan agama”.

Mengapa begitu?. Sikap seperti itu berakar dari karakter utama manusia : mencintai diri (hubb dzatih). Dari sini berkembang menjadi ingin selamat, lalu ingin lebih nikmat dan akhirnya ingin hidup selama-lamanya.

16.04.18
HM