illustrasi

Tulisan ini tidak terkait langsung dengan Al-Quran maupun hadits Nabi Saw. Ia hanyalah cerita. Tetapi ia mengandung contoh bagaimana orang memahami ucapan atau kata-kata. Cerita ini terinspirasi oleh kisah “Shalat Ashar di Bani Quraizhah”, sebagaimana sudah diceritakan. Cerita ini sudah pernah aku tulis di FB beberapa tahun lalu.

Nah inilah cerita tentang nasi goreng itu.

Waktu sudah mendekati tengah malam. Sekitar jam 23.00. Keadaan di luar rumah telah sepi. Pengajian kitab “Adab al-Dunya wa al-Din”, karya Imam Mawardi, usai sudah. Para peserta pengajian pulang ke tempatnya masing-masing. Tiba-tiba perutku terasa kosong. Di rumah nasi sudah habis. Aku lalu minta tolong seorang santri (A) untuk membeli “Nasi Goreng” di pasar. Pasar itu letaknya tidak jauh, hanya 100 m dari rumah. A pun berangkat. Beberapa menit kemudian anakku minta dibelikan juga Nasgor. Aku juga minta tolong santri lain (B) untuk membelikan “Nasi Goreng” pula, di pasar yang sama. Si B pun pergi ke pasar yang sama. Setelah menunggu cukup lama, sekitar 30 menit, keduanya datang hampir bersamaan, dengan wajah seperti khawatir atau cemas. Lalu masing-masing menceritakan pengalaman menjelajah pasar dan menelusuri tempat-tempat penjual Nasi Goreng yang biasa mangkal. Mereka sama-sama tak menemukan satupun penjual Nasi goreng Mereka hanya menemukan seorang perempuan tua yang sedang menunggui “Nasi Jamblang” di depan toko yang sudah tutup, di pertigaan jalan.

Santri A menemuiku sambil memohon maaf, karena tidak membawa pulang nasi pesananku. Tak lama sesudah itu santri B datang membawa satu bungkus Nasi Jamblang, sambil mohon maaf karena telah menyalahi pesananku. Dia juga menyampaikan alasan yang sama, tidak ada penjual nasi goreng. Dia rupanya nekat membeli Nasi Jamblang itu, meski mungkin harus disalahkan.

Aku tersenyum saja. Kepada kedua santri itu aku menyampaikan terima kasih, sambil mengatakan : Jazakumullah Khairan’. Semoga Allah membalas kalian dengan lebih baik. Begitu keduanya menghilang, kembali ke kamar masing-masing, aku dan anakku segera menyantap bersama-sama satu bungkus “Nasi Jamblang” itu. “Alhamdulillah”.

Malam berikutnya, aku menceritakan kisah di atas kepada para peserta pengajian dan menanyakan : “bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa itu. Siapakah di antara A dan B yang paling benar”. Dan merekapun berdebat sedikit sengit. Sebagian membenarkan si A, sebagian menyetujui si B dengan argumentasi nya masing-masing. Aku membiarkan saja perdebatan yang menarik itu.

Aku lalu berkomentar. Si A adalah santri tekstual. Dia benar, karena memahami kata-kata : “Nasi Goreng”, ya nasi goreng, bukan selain itu. Betapa jelasnya kata itu. Tidak mengandung tafsir. “Qath’i”. Jika dia membeli nasi Jamblang atau Warteg, dia akan merasa salah. Dia memahami makna lahiriahnya, atau makna tekstualnya. Tetapi si B juga benar. Meski membeli nasi Jamblang, bukan nasi goreng. Dia memahami bahwa aku lapar. Nasi goreng hanyalah simbol dari makanan. Nah, nasi Jamblang juga makanan. Dia mengerti bahwa aku sedang lapar saat malam itu. Bukankah yang penting adalah makanan yang dengannya aku jadi tidak kelaparan pada tengah malam itu. Jadi si B berpikir substantif, kontekstual dan Maqasid.

Sebuah pernyataan, betapapun jelasnya, bisa dimaknai secara berbeda oleh pendengarnya. Ini karena kata-kata selalu muncul tidak dalam ruang kosong, tetapi ada dalam situasi atau peristiwa yang menyertainya. Dengan kata lain setiap ucapan selalu lahir dalam sebuah sejarah. Karena ruang dan waktu berubah-ubah, maka pemaknaannya bisa berubah. Pemaknaan literal/tekstual, bisa tepat dalam situasi tertentu, tetapi bisa tidak tepat dalam situasi yang lain. Jadi pendengar atau pembaca perlu melihat situasi dan mengira-ngira alasan, ruh dan tujuan pembicara.

Begitulah memahami kata-kata ?. Ya kata-kata apa pun atau ucapan apapun. Tidak sederhana bukan?.

Syamsi Tabrizi, guru Mawlana Rumi itu, mengatakan :

تنبع مُعظم مشاكل العالم من أخطاء لغوية ومن سوء فهم بسيط. لا تأخذ الكلمات بمعناها الظاهري مُطلقا وعندما تلج دائرة الحب تكون اللغة التي نعرفها قد عفى عليها الزمن. فالشيء الذي لا يمكن التعبير عنه بكلمات لا يمكن إدراكُه إلا بالصمت.

Kebanyakan problem di dunia berawal dari kesalahan bahasa dan dari kesalahpahaman kecil. Jangan memaknai kata-kata secara literal, semata. Saat kita menginjak wilayah cinta, bahasa seperti yang kita ketahui, menjadi usang. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata hanya bisa diraih lewat diam dalam keheningan.

25.04.18
HM