Saat menitipkan anakku mondok, kemarin, aku “ngobrol”, bicara dengan suami-isteri pengasuh pesantren HMQ, Lirboyo, yang adalah adikku sendiri, tentang visi-missi atau tujuan pesantren. Ia mengatakan : “pesantren itu unik. Sering tidak bisa dilogikakan. Tetapi seringkali memukau. Orang boleh menilainya ga teratur, ruwet, kurang bersih dan sumpek. Tetapi ia membawa banyak berkah. Saat mesantren, santri tidak memikirkan bagaimana nantinya, masa depannya. Tapi dijalaninya saja, belajar sungguh-sungguh sambil menyerahkan masa depan kepada Allah. Masa depan itu urusan Allah. Dalam banyak kenyataan mereka bisa hidup baik. Sebagian sukses menjadi pemimpin, pengusaha, intelektual, dll.

Baca juga: Pesantren dan Santri

“Lalu apa missi dan visi pesantren”? aku bertanya.

Missi dan Visinya jelas. Mendidik santri berakhlak Karimah dan melanjutkan risalah kenabian untuk mewujudkan Rahmatan Lil ‘Alamin. Yang penting lagi adalah bagi pesantren belajar itu Ibadah.

Aku lalu mengutip tulisan Dr Zamakhsyari Dhofir. Ia mengatakan dalam disertasinya mengenai tujuan pendidikan pesantren, sebagai berikut :

“Tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan pelajaran-pelajaran agama, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah-laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan hidup bersih hati. Setiap santri diajarkan agar menerima etik agama di atas etik-etik yang lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan”.

Masih di atas kereta
19.07.17

How you feel for this post?
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0