Abu Hanifah Membela Perempuan

0
2614

Syeikh Abu Zahrah, ulama besar dan terkemuka Al Azhar Kairo, menulis dalam buku biografi Imam Abu Hanifah:

Abu Hanifah masih tetap kritis terhadap pemerintah Dinasti Abasiah dan tetap mencintai keluarga nabi (Ahli Bait). Khalifah Manshur (Abu Ja’far) berusaha mendekati dan memperlihatkan penghormatan padanya. Khalifah acap memberinya hadiah-hadiah besar, tetapi Abu Hanifah selalu menolak dengan sejumlah alasan yang tak melukainya. Suatu hari, relasi Khalifah dengan isterinya terganggu, saban hari tengkar. Ini gara-gara Khalifah ingin menikahi perempuan lain (poligami). Sang isteri meminta ada orang lain menengahi kasus ini dan menyelesaikannya. Khalifah menyambut baik, sambil mengatakan: “Siapa yang kamu minta untuk menengahi persoalan di antara kita ini?”. “ Abu Hanifah”, jawab isterinya. Al Manshur setuju dan segera mengundangnya ke istana. Abu Hanifah tiba di istana dan disambut dengan penghormatan.

Lalu terjadi dialog antara Al Manshur dan Abu Hanifah.

Al Manshur: Abu Hanifah, ada seorang perempuan merdeka melawanku, tolong anda tengahi soal ini”. Sang Imam berharap Khalifah melanjutkan persoalannya.

“Berapakah batas seorang laki-laki berhak menikahi perempuan dalam satu waktu?

“Empat”.

“Berapa dia boleh menikahi budak perempuan?.

“Terserah, seberapa saja dia mau”.

“Apakah boleh seseorang menentang pandangan anda ini?.

“Tidak”. Tegas Abu Hanifah

Kepada isterinya, Khalifah seolah mendapat dukungan sang Iman, mengatakan: “kamu sudah mendengarnya kan?

Tetapi Abu Hanifah segera melanjutkan: “Itu hanya boleh bagi orang yang bisa berlaku adil, jika tidak atau dimungkinkan tidak bisa, dia hanya boleh satu saja. Tuhan sudah mengatakan:”Jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka satu saja. Seyogyanya kita mengikuti etika Tuhan dan mengambil pengetahuan dari kata-kata-Nya”.

Khalifah diam, tak bisa berkata apa-apa, lama sekali.

Sesudah mengatakan itu, Abu Hanifah segera minta pamit, pulang. Manakala sudah sampai di rumahnya, isteri al Manshur mengutus seseorang untuk menemui Imam Abu Hanifah sambil membawakan sejumlah hadiah; uang, pakaian bagus, pembantu perempuan dan kendaraan (himar). Abu Hanifah menolak semuanya, sambil menitipkan salam kepadanya. Kepada utusan tersebut dia bilang: “Aku membela agamaku dan aku melakukannya hanya karena Allah. Aku tidak menghendakinya karena ingin dekat dengan dia dan bukan juga karena kepentingan duniawi”. (Abu Zahrah, Abu Hanifah; Hayatuhu wa ‘Ashruhu, wa Ara-uhu wa Fiqhuhu, Dar al Fikr al Arabi, Kairo, h. 39).